A.  Paham Akan Arti Kata “Saling Menyembah”

Mu’minin pada zaman Nabi Saw telah mengangkat senjata, karena diserang oleh pihak musyrik. Para kaki tangan Abu Jahal bertekad melakukan tindakan bersenjata terhadap Nabi, sebab Rasul itu tidak tunduk kepada kehendak pemerintah musyrik, serta tidak menyembah apa yang disembah oleh mereka. Hal itu diungkapkan oleh ayat yang bunyinya :

قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2)

“Katakanlah : “Hai orang kafir ! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (Al-Kaafiruun : 1-2).

Untuk memperjelas uraian ini kita lihat kembali ayat yang bunyinya : “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir,lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Sebab itu janganlah kamu mengambil dari antara mereka itu penolong hingga berhijrah pada jalan Allah….”– (Q.S. An Nisa : 89).

Ayat itu memperingatkan kita supaya selalu mawas diri dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan dari pihak yang anti Islam. Mereka tidak akan tinggal diam selama kita belum mentaati apa yang dikehendaki mereka. Dengan itu diartikan bahwa kehidupan mu’minin tidak akan lepas dari ancaman orang-orang kafir.

Selain dari itu, diambil pula kesimpulan bahwa kita diharapkan mengabdi kepada hukum-hukum penyembahan kafir. Mengabdi terhadap sesuatu yang menyalahi dari ketetapan Allah, maka akan “sama halnya” dengan orang-orang kafir (kamaa kafaruu). Dalam keadaan serupa itu sudah berarti sampai pada target yang dituju oleh mereka. Sehingga dengan kesamaan itu wajar pula andainya mereka belum memerangi kita secara fisik, yang mana kita ini sudah dianggap sama dalam pengabdian dengan mereka, yaitu “sawaa an (sama-sama)” tidak mau pakai hukum Allah.

Kalau yang diperbuat oleh kita telah sesuai dengan yang mereka tuju, maka buat apa mereka memerangi kita. Dari itu dalam pembahasan yang lalu telah dikemukakan bahwa mengenai pengertian “diperangi” atau “diserang” oleh luar Islam, tidaklah musti khusus secara fisik. Melainkan, pula dengan beraninya mereka menjegal pelaksanaan hukum-hukum Al-Qur’an dalam kehidupan kita, itu pun berarti sudah menyerang secara tidak langsung. Adapun bila dalam melakukannya itu belum secara fisik, maka tentu kitanya ini sudah dianggap tunduk kepada kehendak mereka, dengan bersedia mengabdi atau bernaung diri dalam hukum-hukum sembahan mereka. Itu sama artinya dengan “saling menyembah” atau menyetujui tawaran kompromi dari pihak Abu Jahal ala modern.

Menghadapi persoalan di atas itu, boleh bertanya tentang pilihan : Apakah diri lebih baik diperangi oleh kekuatan senjata mereka sebagaimana umat Nabi diperangi oleh tentara Abu Jahal-Abu Lahab, namun berada di jalan Allah ? Ataukah akan memilih leha-leha tanpa ada yang memerangi, tetapi diri terlibat dalam kedurhakaan sehingga di cap oleh Allah sekomplotan (sawaa’an) dengan mereka dijalan thagut ? Ingatlah, bahwa pihak musyrikin Abu Jahal pun tidak akan memerangi Nabi, bila Nabi itu sedia menyembah (mengabdi) kepada sebagian dari yang disembah oleh mereka, artinya ; saling mengabdi terhadap masing-masing norma/hukum. Tegasnya, bahwa yang ditakuti oleh pihak musyrikin itu, bukanlah hanya sekitar persoalan Muhammad sebagai Rasul, bukan pula persoalan melakukan shalat, melainkan yaitu adanya pemisahan dari segala yang bertentangan dengan peraturan-peraturan Allah SWT, sebagai pengamalan kalimat “Laa Ilaaha illallah”. Andainya bukan itu, maka apa maksudnya mereka mengajak kompromi dengan Nabi untuk saling menyembah ? Sebab itu tak usah heran, bila anda melihat para pengayom Hukum Pidana ala KUHP (pancasilais) ikut berbaris dimesjid bersama anda.

Para pengabdi hukum-hukum thagut pada masa dahulu telah menawarkan kepada Rasulullah Saw, wanita tercantik, harta yang banyak dan menjadi raja ; asalkan Nabi itu bersedia untuk mengabdi terhadap sebagian nilai ajaran yang dianut oleh mereka. Dengan kata lain, ialah “saling menyembah, yaitu kompromi”. Akan tetapi, apa jawaban dari beliau ? Untuk itu ditegaskan oleh surat Al-Kaafiruun ayat 1-2 tadi : “Aku tidak akan mengabdi kepada apa yang engkau sembah.”

B.  Paham Terhadap yang Dituju oleh Syaitan

Perhatikan, bahwa yang dituju oleh syaitan dalam menggoda, tiada lain adalah agar manusia itu masuk jahannam bersamanya karena kekufuran atau kemusyrikan. Hati-hatilah bahwa penyebabnya itu bukan saja karena menolak seluruh perintah Allah, melainkan satu ayat saja yang dibantah dan tidak dipakainya, cukup bagi seseorang itu menjadi musyrik dan kafir. Dengan itu niscaya setan pun masih bersuka ria, bila kita hanya berpuasa pada bulan Ramadhan, mengerjakan shalat serta pergi berhaji, sedang kekuasaan Islam kita tolak sehingga diri berada dalam aturan-aturan jahiliyah. Sebab, hal itu sama artinya dengan menolak hukum Islam secara kaffah, atau membencinya sehingga menghapuskan segala amal baik yang telah dikerjakannya. Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhoan-Nya ; sebab itu Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad : 28).

Menurut keterangan dalam Al-Qur’an bahwa setan itu musuhnya orang beriman (lihat QS. 35 Al-Fathir : 6). Sedangkan orang beriman adalah musuhnya orang kafir, maka orang kafir harbi itu mempunyai kesamaan dengan setan yaitu berusaha menyesatkan umat Islam. Yang setidak-tidaknya supaya umat Islam itu tinggal diam, bercampur aduk dalam kebathilan. Karenanya lumrah bila setan-setan yang berwujud manusia juga adakalanya menyuruh orang lain pergi berhaji dan berzakat. Sebab, bagi setan sedemikian rupa itu mempunyai beberapa maksud dan keuntungan yang di antaranya sebagai berikut di bawah ini :

  1. Supaya tidak kentara sebagai musuh Islam.
  2. Kebagian hasilnya berupa materi duniawi. Bahkan bisa digunakan memperkuat posisi yaitu memberi gaji para serdadunya dalam usaha menumpas perjuangan Islam.
  3. Berhasil mengelabuhi umat Islam, agar beramal tidak pada salurannya.

Sebab itu, agar kita tidak terlibat dengan tipuan setan, maka harus berada dalam posisi furqon yang sebenarnya. Sehingga apabila satu saat terpaksa melakukan sesuatu yang tidak tersalurkan pada saluran Islam, maka hal itu sebagai keadaan terpaksa yang sebenarnya terpaksa atau guna “Tadfau’l balaa”.

Mengangkat senjata guna menghadapi musuh, adalah kewajiban yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an. Sebagaimana dalam ayat yang bunyinya :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (216)

“Diwajibkan kepada kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu hal yang pahit. Boleh jadi kamu merasakan pahit pada sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat jahat bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216).

Logis bila penguasa thagut tidak sudi menyerahkan kekuasaannya kepada umat, kecuali terhadapnya diberikan kekerasan dengan jalan memeranginya. Dengan itu tepatlah bila di bawah ini dikemukakan sabda Nabi Saw :

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ (رواه مسلم)

“Barangsiapa yang mati dan tidak berperang dan di dalam dirinya tidak membicara-bicarakan mengenai berperang, maka dia mati dari cabang nifak.” (HR. Muslim).

Adanya hadist itu mudah dimengerti. Sebab, bahwasanya umat Islam yang konsisten terhadap ajaran agamanya, maka lambat atau cepat senantiasa akan menghadapi ancaman dari musuh. Firman Allah SWT :

… وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا…(217)

“…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai sehingga mereka (berhasil) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), jika mereka mampu…” (QS. Al-Baqarah : 217).

Nyatalah bahwa dengan ketaatannya seseorang hamba kepada Allah ; menyebabkan dirinya mempunyai musuh. Dan karenanya pula setiap pribadi mukmin diwajibkan bercita-cita untuk mengangkat senjata. Sungguh diperintahkan mempersiapkannya. Firman Allah yang bunyi-Nya : “Hai orang-orang yang beriman bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok atau majulah bersama-sama.” (QS. 4 : 71).