Dengan kata lain: Tujuan pokok jihad adalah memenangkan Islam, bukan semata-mata mati syahid.

Tetapi keutamaan mati syahid terdapat beberapa dalil:

1) Firman Alloh SWT:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنْ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمْ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka.” (QS. At-Taubah:111)

2) Dari Abu Huroiroh ra. bahwasanya Rosululloh SAW bersabda:
انتدب الله لمن خرج في سبيله لا یخرجه إلا إیمان بي وتصدیق برسلي، أن أرجعه بما
نال من أجر أو غنيمة، أو أدخله الجنة، ولولا أن أشق على أمتي ما قعدت خَلْف سریة،
ولوَدِدت أن أقتل في سبيل الله، ثم أحيا فأقتل، ثم أحيا فأقتل
“Alloh telah menyeru siapa yang keluar di jalan-Nya, ia tidak keluar kecuali lantaran iman kepada-Ku dan membenarkan para Rosul-Ku, akan Aku kembalikan ia dengan membawa pahala atau ghonimah yang ia peroleh, atau Aku masukkan ia ke surga.” Kalau tidak memberatkan ummatku, aku akan ikut dalam sariyah, sungguh aku berangan-angan seandainya aku terbunuh di jalan Alloh, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh kemudian dihidupkan lagi kemudian terbunuh.” (Muttafaq ‘Alaih)

• Dan dari Anas ra. bahwasanya Rosululloh SAW bersabda:
ما أحد یدخل الجنة یحب أن یرجع إلى الدنيا، وله ما على الأرض من شيء، إلا الشهيد
یتمنى أن یرجع إلى الدنيا فيُقتل عشر مرات لما یرى من الكرامة

“Tidak ada seorangpun masuk jannah yang ingin kembali ke dunia serta memiliki sesuatu dari bumi, kecuali orang yang mati syahid, ia berangan-angan seandainya ia kembali ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali, karena kemuliaan yang ia lihat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Makna hadits di atas adalah, siapa yang masuk jannah, ia tidak suka kembali ke dunia meskipun ia memiliki semua isi dunia karena agungnya kenikmatan jannah yang ia dapatkan, di dalam sebuah hadits disebutkan:
موضع سوط في الجنة خير من الدنيا وما فيها

“Tempat cemeti di surga lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. Bukhori dari Sahl bin Sa’ad)

Kecuali orang yang mati syahid, ia sangat ingin kembali ke dunia lalu terbunuh sebanyak sepuluh kali di jalan Alloh karena berlipat gandanya kedudukan agung yang ia peroleh di jannah. Oleh karena itu, Ibnu Hajar berkata: Ibnu Baththol berkata: “Hadits ini adalah hadits paling besar tentang masalah kesyahidan.” (Fathul Bari (VI/33))

Di sini ada beberapa perkara yang harus diperhatikan kaitannya dengan masalah syahadah (kesyahidan), yaitu:

  • Pertama: Pengaruh cinta kesyahidan dalam meraih kemenangan.
  • Kedua: Bahaya sikap ngawur.
  • Ketiga: Bahaya sifat pengecut.
  • Keempat: Bahaya mundur dari perang

YANG PERTAMA:
Pengaruh Cinta Kesyahidan Dalam Meraih Kemenangan

Mengharapkan dan bertekad menggapai kesyahidan termasuk hal terbesar yang mendorong seorang mukmin untuk terus maju dalam perang. Artinya, kesyahidan adalah lembar kemenangan di dunia dan tanda bukti untuk bisa masuk jannah di akhirat (Qs. At At Taubah 111).

Tekad ini juga mampu menggentarkan musuh-musuh mereka, terlebih ketika Anda tahu bahwa musuh Anda sedang ingin hidup, sebab orang kafir adalah orang yang paling ingin hidup, sebagaimana Alloh SWT berfirman:

قُلْ إِنْ آَانَتْ لَكُمْ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوْا الْمَوْتَ إِنْ آُنتُمْ صَادِقِينَ
وَلَنْ یَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَیْدِیهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنْ
الَّذِینَ أَشْرَآُوا یَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ یُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنْ الْعَذَابِ أَنْ یُعَمَّرَ
“Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (jannah) itu khusus untukmu di sisi Alloh, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selamalamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Alloh Maha Mengetahui orang-orang yang aniaya. Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, seloba-loba manusia kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkan daripada siksa…” (QS. Al-Baqoroh:94-96).

Kemudian bandingkan ini dengan sabda Nabi SAW dalam hadits Anas ra.
sebelumnya:
إلا الشهيد یتمنى أن یرجع إلى الدنيا فيُقتل عشر مرات لما یرى من الكرامة

“…kecuali orang yang mati syahid, ia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian terbunuh sepuluh kali, karena kemuliaan yang ia lihat.”

Sejauh mana keinginan seorang mukmin untuk mati dan menggapai kesyahidan, sejauh itu pulalah ketakutan orang kafir kepada kematian dan keinginannya kepada dunia.”

Untuk menguatkan pemahaman ini mesti dilakukan I’dad Imani (latihan pembinaan iman) serta mengkaji sejarah hidup para sahabat dan salafus Sholeh dalam peperangan-peperangan.

Kembali, saya sebutkan di sini pentingnya membuang sikap bermewahmewah serta kebiasaan hidup enak — meskipun dalam urusan dunia seorang mampu — , sebab sikap bersantai dalam hidup mempengaruhi sabar tidaknya seseorang ketika perang.

Di sini harus diperhatikan bahwa mencintai kesyahidan adalah bagian dari siasat membuat takut musuh, itu termasuk prinsip paling penting dalam jihad kaum muslimin. Rosululloh SAW bersabda:
نصرت بالرعب مسيرة شهر
“Aku ditolong dengan rasa takut musuh sejarak perjalanan satu bulan.” (HR. Bukhori dari Jabir).

Pertolongan dengan menjadikan musuh takut dalam hal ini bersifat umum. Prinsip menakut-nakuti musuh dalam praktek riilnya terwujud dengan dua poros:

1) Poros Logistik, yaitu kekuatan yang tercantum dalam firman Alloh SWT:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّآُمْ وَآخَرِینَ
مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمْ اللَّهُ یَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ یُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا
تُظْلَمُونَ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal:60)

2) Posor teknikal. Ini ada dua sisi, sisi jasmani dengan cara meningkatkan skill militer pada diri setiap muslim.
Rosululloh SAW bersabda:
المؤمن القوي خير وأحبُّ إلى الله من المؤمن الضعيف
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai Alloh daripada orang
mukmin yang lemah.” (HR. Muslim dari Abu Huroiroh).

Yang kedua adalah sisi moril dengan menanamkan pemahaman-pemahaman cinta syahid dan bagaimana melatih sabar dalam diri kaum muslimin.
Alloh SWT berfirman:
اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا
“…bersabarlah, dan pertahankan kesabaran kalian serta berjagalah di perbatasan…” (QS. Ali Imron:200).

Dan Alloh SWT berfirman:
إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ یَأْلَمُونَ آَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنْ اللَّهِ مَا لا یَرْجُونَ

Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Alloh apa yang tidak mereka harapkan…” (QS. An-Nisa’:104).

Kembali saya ingatkan kita masih berbicara masalah I’dad Imani bahwa ketaqwaan kepada Alloh SWT dengan melakukan ketaatan-ketaatan serta meninggalkan berbagai maksiat berpengaruh secara otomatis ketika pertempuran terjadi. Alloh SWT telah menjamin orang-orang bertaqwa bahwa musuh akan gentar menghadapi mereka, sebagaimana firman Alloh SWT:

وَلَوْ قَاتَلَكُمْ الَّذِینَ آَفَرُوا لَوَلَّوْا الأَدْبَارَ ثُمَّ لا یَجِدُونَ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ
مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِیلا
“Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatulloh yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatulloh itu.” (QS. Al-Fath:22-23).

Oleh karena itu, ketaqwaan dan amal sholeh adalah bagian tak terpisahkan dalam siasat menggentarkan musuh.

KEDUA:
Bahaya Sikap Ngawur (Kenekatan)

Tidak masalah berangan-angan mati syahid dan maju perang sendirian dengan syarat itu bukan menjadi tujuan paling utama dari serangan tersebut, tetapi yang seharusnya menjadi tujuan pertamanya adalah memenangkan diin.

Dengan kata lain, tidak selayaknya seorang muslim terjun ke kancah peperangan hanya semata-mata mencari kesyahidan tanpa melihat kerugian musuh. Dalilnya adalah Sabda Nabi SAW:

من قاتل لتكون آلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله
“Barangsiapa berperang agar kalimat Alloh menjadi tinggi, maka ia berada di jalan Alloh.” (Muttafaq ‘Alaih).

Di sini, Rosululloh SAW menjadikan tujuan utama jihad adalah tingginya kalimat Alloh, bukan semata kesyahidan yang mungkin terjadi dan mungkin tidak, dan kesyahidan tidak terjadi kecuali bagi orang yang dipilih Alloh SWT mendapatkan kedudukan ini, Alloh SWT berfirman:
وَیَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

“…dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.” (QS. Ali Imron:140)

Jadi, tujuan pokok jihad adalah memenangkan agama, bukan kesyahidan semata.

Sengaja kami jelaskan masalah ini untuk mengkontrol kenekatan tak terkendali yang dilakukan sebagian kaum muslimin dan mengembalikan mereka kepada sikap adil, yaitu keberanian, yang merupakan tengah-tengah antara sikap nekat dan pengecut. Yang kami maksud sikap ngawur tadi adalah nekat perang semata-mata ingin mati syahid tanpa memperhitungkan pengaruh pada musuh –— meskipun itu diperbolehkan dalam beberapa kondisi, seperti ketika seseorang dikepung dan khawatir akan ditawan lalu ia terus berperan45g sampai terbunuh sebagaimana terjadi dalam Sarriyah ‘Ashim bin Tsabit (Al-Mughni was Syarhul Kabir (X/553), tapi bukan itu tujuan utama — sebab seandainya kesyahidan tujuan utama, tentu lari dari perang untuk bergabung dengan pasukan lain dan taktik perang tidak diperbolehkan, Alloh SWT berfirman:
وَمَنْ یُوَلِّهِمْ یَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنْ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ
جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Alloh, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al-Anfal:16)

Dari sini bisa diketahui bahwa tujuan utama perang adalah memenangkan agama serta merugikan musuh.

Diantara tujuan yang dibenarkan dalam jihad adalah menjaga kekuatan Islam serta agar kaum muslimin tidak begitu saja menemui kehancuran tanpa adanya manfaat militer yang berarti.

Lebih jelas lagi, ini diterangkan dengan kejadian ketika Kholid bin Walid mundur bersama pasukannya dalam perang Mut’ah, sampai Nabi SAW menyebut perbuatannya sebagai kemenangan. Ini tercantum dalam riwayat yang dibawakan Bukhori dari Anas ra. ia berkata: “Bahwasanya Nabi SAW mengkabarkan kematian Zaid, Ja’far dan Ibnu Rowahah ra. sebelum kabar tentang mereka sampai. Beliau bersabda:
أخذ الرایة زید فأصيب ثم أخذ جعفر فأصيب ثم أخذ ابن رواحة فأصيب  وعيناه تَذْرِفان
حتى أخذ الرایة سيف من سيوف الله حتى فتح الله عليهم
“Bendera diambil oleh Zaid kemudian ia gugur, lalu diambil oleh Ja’far lalu ia gugur, lalu diambil oleh Ibnu Rowahah kemudian ia gugur — saat itu kedua mata beliau menitikkan air mata — sampai akhirnya bendera diambil oleh salah satu pedang Alloh sehingga Alloh menangkan ia atas mereka.

Saya katakan:
Ini menjelaskan bahwa melindungi kaum muslimn dan kekuatan Islam adalah tujuan yang dibenarkan, dan tidak boleh menyodorkan kaum muslimin kepada kebinasaan tanpa ada manfaat militer yang berarti yaitu kerugian yang diderita musuh.

Hanya, ada beberapa perkara yang dikecualikan, diantaranya adalah bolehnya seseorang maju sendirian untuk mati syahid, ini tidak termasuk menceburkan diri dalam kebinasaan, sebagaimana telah disebutkan pada dua hadits Abu Ayyub ra. dan Barro yang tercantum dalam tafsir firman Alloh SWT:
وَلا تُلْقُوا بِأَیْدِیكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqoroh:195)

Hal ini meskipun diperbolehkan bagi perorangan, namun kematian itu terkait
erat dengan teguh tidak-nya kita menghadapi musuh, yang lebih baik adalah teguh. (Lihat Al-Mughni was Syarhul Kabir (X/553-554)

Kemudian dari sisi operasi jihad, bisa saya katakan bahwa seorang muslim boleh turut serta dalam proyek jihad berbentuk apapun tanpa harus memperdulikan apapun yang menimpa dirinya dan tanpa melihat hasil dari proyek perang ini, dengan empat syarat, yaitu:

Pertama: Masyru’iyyah (disyari’atkan tidaknya operasi tersebut).

Yaitu mengetahui hukum jihad yang ia lakukan, masyru’ (disyari’atkan) dan wajib atau tidak? Ini menjadi landasan, caranya kita mesti mengetahui status
musuh serta hukum Alloh SWT yang berlaku atasnya.

Kedua: Panji perang.

Anda tidak hanya cukup melihat bahwa musuh itu kafir dan pantas diperangi, tetapi ketika akan berperang bersama suatu kelompok, Anda harus tahu bendera dan misi yang diusung oleh kelompok ini; bendera Islam atau bukan?

Kalau kami katakan bendera Islam, maksudnya Islam yang murni tanpa tercampuri oleh unsur ajaran kufur seperti sosialis, demokrasi atau yang lainnya.

Jika para pengusung bendera mengatakan bahwa mereka berjuang demi menegakkan aturan Islam sosialis, atau Islam demokratis, maka semua ini adalah kufur, sebab Islam adalah peraturan yang sudah sempurna. Alloh SWT
berfirman:

الْيَوْمَ أَآْمَلْتُ لَكُمْ دِینَكُمْ
“Hari ini Aku sempurnakan agama kalian…” (QS. Al-Maidah:3).

Bendera yang tercampur aduk seperti ini, apapun kondisinya, tidak boleh berperang di bawahnya. Karena pada hakekatnya Anda menolong panji kekufuran dan sama sekali bukan di jalan Alloh. Rosululloh SAW bersabda:
من قاتل لتكون آلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله
“Barangsiapa berperang agar kalimat Alloh tinggi, maka ia di jalan Alloh.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ketiga: Manfaat militer

Tidak boleh nekat maju berperang kecuali sudah mengkaji manfaat militer yang berarti dari perang itu. Sebab tujuan utama perang adalah memenangkan agama.

Terkadang satu operasi jihad dijalankan sebagai satu mata rantai strategis global, operasi itu barangkali tidak begitu berdampak besar, namun dampaknya kembali kepada strategi operasi perang secara umum, seperti sariyyah-sariyyah yang dikirim oleh pimpinan pasukan, mungkin dampak yang akan dicapai hanya dari segi politik yaitu dalam rangka menggentarkan (baca: menteror) musuh saja dan semua ini dibenarkan secara syar’i.

Keempat: Mengambil langkah-langkah pengamanan dan penyelamatan.

Ini bisa dilakukan dengan cara memperketat penjagaan misi dan pasukan.
Bisa juga dengan melakukan teknik-teknik tipu daya, atau dengan menempuh
hal-hal untuk mencapai keselamatan pribadi, seperti mengenakan baju besi,
khoudzah (tameng), menggali parit atau yang lain sebagaimana dilakukan
Rosululloh SAW, beliau mengenakan baju besi dan tameng serta menggali parit meskipun beliau dilindungi Alloh dari gangguan manusia. Alloh SWT
berfirman:
وَاللَّهُ یَعْصِمُكَ مِنْ النَّاسِ

Dan Alloh memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Maidah:67)

Beliau melakukan hal itu tidak lain karena itu sebagai syari’at bagi kita. Jika terbunuh dan terluka terjadi atas takdir Alloh SWT, maka wajib menolak takdir ini dengan sebab-sebab yang syar’i yang itupun bagian dari takdir Alloh SAW juga, bukan dengan cara pasrah untuk terbunuh dan terluka. Sebab kalau seperti itu orang yang mengatakan perkataan ini berarti harus menyerahkan dirinya Jadi, yang wajib adalah melawan.

Mengenai kaidah ini (yakni, kaidah: menolak takdir dengan takdir), Ibnul Qoyyim Rahimahulloh berkata:

“Syaikhul ‘Aroq Al-Qudwah Abdul Qodir Al-Jailani berkata: “Orang kalau sudah sampai kepada qodho dari qodar biasanya berhenti. Kalau saya tidak, saya merasakan beratnya takdir tersebut lalu aku lawan takdirtakdir kebenaran dengan kebenaran dan untuk kebenaran, lelaki sejati adalah yang melawan takdir (dengan takdir), bukan hanya pasrah kepada takdir.”

— Ibnul Qoyyim melanjutkan — :
“Jika kemaslahatan hamba dalam hidupnya di dunia tidak sempurna kecuali
dengan menolak satu takdir dengan takdir lainnya, maka bagaimana dengan
kehidupan mereka di akherat?

KETIGA:
Bahaya Pengecut

Kebalikan dari sebelumnya, Anda lihat bahwa pengecut dan wahn (cinta dunia dan takut mati) adalah penyakit mematikan yang mengakibatkan umat-umat lain menjadikan umat Islam menjadi bulan-bulanan ibarat orang makan mengeroyok nampan makannya seperti tercantum dalam hadits Tsauban.

Obat penyakit ini adalah mencampakkan sikap kebiasaan hidup senang sebagaimana saya katakan sebelumnya.

Cara yang lain dengan menanamkan pondasi aqidah beriman kepada takdir, yaitu seorang muslim harus tahu bahwa apa yang bakal menimpa dia tidak akan meleset darinya, dan apa yang bakal meleset darinya tidak akan pernah menimpa dirinya. Ajal sudah ditentukan sejak dulu, demikian juga dengan rezeki, apa saja yang menimpa seorang hamba maka itu sudah ditakdirkan di sisi Alloh. Alloh SWT berfirman:
مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَفِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي آِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى
اللهِ یَسِيرٌ لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَافَاتَكُمْ وَلاَتَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتَاآُمْ وَاللهُ لاَیُحِبُّ آُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid:22-23).

Jadi, rezeki dan ajal itu sudah ditakdirkan dan sudah selesai. Oleh karena itu, banyak sekali para salaf yang memakruhkan berdo’a meminta panjang umur.
Mengenai hadits:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ یُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَیُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya serta dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung tali silaturrohmi.” (Muttafaq ‘Alaih dari Anas)

Pendapat yang dirojihkan Ibnu Hajar dan dikuatkan oleh yang lain, yang dimaksud di sini adalah berkah dalam rezeki dan umur, bukan bertambah dari yang sudah ditakdirkan, dan beliau menyebutkan beberapa atsar yang mendukung hal itu. (Fathul Bari (X/415-416).

Hendaknya diketahui bahwa jihad tidak menyegerakan ajal serta tidak menghalangi rezeki.

Hanya saja, bukan berarti sebab-sebab syar’i tidak perlu dijalani, seperti usaha untuk mencari rezeki, memakai baju besi dan menggali parit atau yang lain ketika memerangi musuh sebagaimana disyari’atkan Nabi SAW.

Tidak ada kontradiksi antar iman kepada takdir dan melaksanakan perintah sebagaimana telah dijelaskan.

KEEMPAT:
Bahaya Mundur Dari Perang

Yang saya maksud mundur dari perang di sini adalah ketika kecintaan terhadap kemenangan itu terlalu kuat tertancap di dalam diri, sebagaimana firman Alloh SWT:
وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِیبٌ
“Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Alloh dan kemenangan yang dekat (waktunya)…” (QS. As-Shoff:13)

Seorang muslim diperintahkan berjihad secara syar’i dan bukan untuk mewujudkan kemenangan yang sudah pasti akan datang, sama saja apakah kemenangan itu tercapai melalui tangannya atau melalui tangan saudarasaudaranya atau anak-anaknya, berarti ia telah melaksanakan kewajiban dia berjihad dan Insya Alloh pahalanya ada di sisi Alloh. Alloh SWT berfirman:
وَمَنْ یَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ یُدْرِآْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Alloh…” (QS. An-Nisa’:100)

Saya akan lebih perjelas keterangan saya:
Firman Alloh SWT:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا یُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا یَطَئُونَ مَوْطِئًا یَغِيظُ
الْكُفَّارَ وَلا یَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلاَّ آُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لا یُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
وَلا یُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلا آَبِيرَةً وَلا یَقْطَعُونَ وَادِیًا إِلاَّ آُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِیَهُمْ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا
آَانُوا یَعْمَلُونَ
“Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Alloh. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal sholeh. Sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal sholeh pula), karena Alloh akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah:120-121)

Ayat ini tidak menyisakan satu kepayahanpun yang dilakukan seorang muslim dalam rangka jihad yang ia lancarkan kepada musuh-musuh Alloh melainkan telah ditetapkan sebagai amal sholeh yang pelakunya diberi pahala, di sana tidak disyaratkan target dan kemenangan harus tercapai.

Sebagai keterangan tambahan, perlu diketahui bahwa orang yang berjihad dan tidak sempat memperoleh ghonimah atau kemenangan, itu lebih besar pahalanya di sisi Alloh SWT daripada orang yang mendapatkan ghonimah dan
kemenangan. Ini disimpulkan dari sabda Rosululloh SAW:
مَا مِنْ غَازِیَةٍ أَوْ سَرِیَّةٍ تَغْزُو فَتَغْنَمُ وَتَسْلَمُ إِلا آَانُوا قَدْ تَعَجَّلُوا ثُلُثَيْ أُجُورِهِمْ وَمَا مِنْ غَازِیَةٍ أَوْ
سَرِیَّةٍ تُخْفِقُ وَتُصَابُ إِلا تَمَّ أُجُورُهُمْ

“Tidak ada satu ghozwah atau sariyyah yang dilakukan kemudian mereka mendapatkan ghonimah dan mereka selamat melainkan mereka telah segerakan sepertiga pahala mereka. Dan tidaklah satu ghozwah atau sariyyah yang tanpa membawa apa-apa atau terluka, melainkan disempurnakan pahala mereka.” (HR. Muslim dari ‘Abdulloh bin ‘Amru)

Yang semisal dari hadits Khobbab bin Al-Arts ra., ia berkata:
هاجرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم نلتمس وجه الله تعالى فوقع أجرنا على الله، فمِنّا
قتل یوم أحد وترك نَمِرة فكنا إذا ،τ مَنْ مات ولم یأآل من أجره شيئا منهم مصعب بن عمير
غطينا بها رأسه بدت رجلاه وإذا غطينا رجليه بدا رأسه، فأمرنا رسول الله صلى الله عليه
وسلم أن نغطى رأسه ونجعل على رجليه شيئا من الإذخر، ومنا من أینعت له ثمرته فهو
یَهْذِبُها
“Kami berhijrah bersama Rosululloh SAW karena mencari wajah Alloh SWT maka pahala kami ada di sisi Alloh, diantara kami ada yang meninggal dan belum sempat memakan pahalanya sedikitpun, diantara mereka adalah Mush’ab bin Umair ra., ia terbunuh ketika perang Uhud dan beliau hanya meninggalkan sebuah namiroh sehingga apabila kami menutup kepalanya, kedua kakinya kelihatan. Dan jika kami menutup kedua kakinya, kepalanya kelihatan. Akhirnya Rosululloh SAW memerintahkan agar kami menutup kepalanya dan meletakkan pada kakinya sedikit “Idzkhir” diantara kami juga ada yang buahbuahannya matang lalu ia memetiknya. (Aina’at artinya: matang. Yuhdzibuha artinya memetiknya. Ini adalah kata kiasan terhadap dunia yang Alloh bukakan untuk mereka dan mereka berhasil menguasainya. Dan keterangan hadits Abdulloh bin Amru serta hadits Khobbab telah kami kemukakan, dan keduanya adalah nash yang cukup jelas dalam menjelaskan maksud ini)” (Muttafaq ‘Alaih.)
Inilah terakhir penjelasan dari saya dalam masalah kesyahidan.