Alloh SWT berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ یَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَیَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ وَیُقِيمُونَ
الصَّلاةَ وَیُؤْتُونَ الزَّآَاةَ وَیُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ سَيَرْحَمُهُمْ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِیزٌ حَكِيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh; Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (QS. At-Taubah:71)

Alloh SWT juga berfirman:
وَمَنْ یَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِینَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ

“Dan barangsiapa mengambil Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Alloh itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah:56)

Ayat pertama mengingatkan pentingnya kesetiaan antar orang-orang beriman satu sama lain dalam rangka melaksanakan kewajiban iman serta memulai amar ma’ruf nahi munkar, sebab itu tidak akan bisa dipetik hasilnya kecuali dengan senjata dan kekuatan.

Nah, kekuatan ini akan terbentuk kalau ada perwalian kaum mukminin satu sama lain. Dengan inilah akan terbentuk jama’ah muslim yang dijanjikan akan memperoleh rahmat.

Rosululloh SAW bersabda:
الجماعة رحمة والفُرْقَة عذاب
“Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dan dihasankan oleh Al-Albani)

Bukti penguat dari Al-Qur’an adalah firman Alloh SWT:
وَلا تَكُونُوا آَالَّذِینَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS. Ali-Imron:105)

Rahmat di sini adalah pahala atas kesetiakawanan terhadap sesama muslim, sedangkan adzab adalah hukuman akibat perselisihan.

Adapun ayat kedua berisi kabar gembira akan datangnya kemenangan:
فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ“

…maka sesungguhnya pengikut (agama) Alloh itulah yang pasti menang.”

Di dalamnya terdapat isyarat wajibnya perwalian iman sebagai syarat kemenangan, sebab ayat tersebut dimulai dengan Adatus syarth (مَنْ) … barang siapa…

Sedangkan syaratnya adalah perwalian iman,
یَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِینَ آمَنُوا
Berwala’ kepada Alloh dan RosulNya serta orang-orang yang beriman …

Dan jawabus syarth-nya adalah kabar gembira akan datangnya kemenangan:
فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ
…maka sesungguhnya pengikut (agama) Alloh itulah yang pasti menang…

Coba renungkan urutan dalam firman Alloh tersebut. Di dalamnya terdapat isyarat bahwa perkumpulan kaum mukminin itu tidak berarti kecuali jika dibangun atas perwalian kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan ini hanya terjadi dengan berpegang teguh terhadap kitab Alloh dan sunnah Rosul.

Perintah berjama’ah secara tegas tercantum dalam sabda Nabi SAW:

وَأَنَا آمُرُآُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ: الجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيل الله

“Dan aku perintahkan kalian dengan lima perkara yang diperintahkan Alloh kepadaku, jama’ah, mendengar, taat, hijroh dan jihad di jalan Alloh.” (HR. Ahmad dan Harits Al-Asy’ari dan dishohihkan oleh Al-Albani.)

Ini adalah hadits yang rinci kaitannya dengan permasalahan yang sekarang
sedang kita bahas. Hadits ini dimulai dengan lafadz: “Jama’ah”, serta diakhiri
dengan “Jihad.” Artinya, jihad dimulai dengan membentuk jama’ah muslim yang diikat dengan perwalian atas dasar iman. Sedangkan jama’ah itu harus ada amir (pemimpin)nya, ini kami rincikan pada bab ketiga dari risalah ini.

Nash-nash yang menyebutkan bahwa kekuatan itu terbentuk dengan
perwalian iman sangat banyak, diantaranya adalah firman Alloh SWT:
یَاأَیُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضْ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang.” (QS. Al-Anfal:65)

Dan firman Alloh SWT:
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضْ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ یَكُفَّ بَأْسَ الَّذِینَ آَفَرُوا
“Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Alloh menolak serangan orang-orang yang kafir itu.” (QS. An-Nisa’:84)

Jadi, membendung keganasan orang kafir tidak akan terlaksana dengan baik kecuali dengan kekuatan yang terhasilkan dari mengobarkan semangat orang beriman, Alloh SWT sendiri telah berfirman kepada Nabi-Nya SAW:
وقاتل بمن أطاعك من عصاك
“Dan berperanglah dengan orang yang mentaatimu melawan orang yang
bermaksiat kepadamu.”(HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himmar)

Dari keterangan ini, Anda mengerti betapa pentingnya sebuah jama’ah dalam jihad, dan buah dari jihad (yaitu kemenangan) tidak akan datang kecuali dengan berjama’ah.

Sebaliknya, perpecahan dan perselisihan pendapat adalah penyebab pertama
kekalahan dan kemunduran,
Alloh SWT berfirman:
وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِیحُكُمْ وَاصْبِرُوا

“… dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah…” (QS. Al-Anfal:46)

Atas landasan ini, kami katakan:
Sesungguhnya berkuasanya musuh dan penghinaan atas kaum muslimin tak lain disebabkan perpecahan dan perselisihan kaum muslimin sendiri, sebagaimana tercantum dalam hadits Tsauban secara marfu’ bahwasanya Alloh SWT berfirman kepada Nabi-Nya SAW:
وَأَنْ لا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا
حَتَّى یَكُونَ بَعْضُهُمْ یُهْلِكُ بَعْضًا
“Dan Aku tidak akan kuasakan musuh di luar mereka sehingga menguasai negeri mereka meskipun mereka berkumpul dari berbagai belahan untuk menghancurkan mereka sampai nanti mereka saling membinasakan satu sama lain.” Al-Hadits. (HR. Muslim.)

Tak ada cara untuk keluar dari realita yang hina ini kecuali dengan mengobati pangkal penyebabnya, caranya kaum muslimin harus bersatu.

Sebagaimana perpecahan adalah sebab berkuasanya musuh, perpecahan jugalah yang sebenarnya menyebabkan munculnya sebab-sebab lain yang juga harus diobati, faktor lain itu diantaranya adalah sikap meremehkan hukum Islam, tidak mau peduli untuk mengamalkan hukum-hukum Islam, ini mengakibatkanterjadinya perselisihan dan perpecahan sebagai hukuman Alloh yang bersifat qodari.

Alloh SWT berfirman:
فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُآِّرُوا بِهِ فَأَغْرَیْنَا بَيْنَهُمْ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ
“…tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian…” (QS. Al-Maidah:14)

Alloh SWT juga berfirman:
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا آُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَیْهِمْ فَرِحُونَ

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rosul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS. Al-Mukminun:53)

Obat dari semua ini adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah — saya telah sebutkan prinsip-prinsipnya sebelum ini (dalam bab Al-I’tishombil Kitab wal Sunnah dari risalah Al-‘Umdah, penerj.) — , dengan inilah Alloh SWT akansatukan hati, sebagaimana firman Alloh SWT:

هُوَ الَّذِي أَیَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَبَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِیزٌ حَكِيمٌ

“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamumembelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukanhati mereka, akan tetapi Alloh telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia MahaPerkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal:62-63)

Hanya dengan inilah kekuatan Islam akan terbentuk sebagai buah dari perwalian yang didasari iman.