A. Seperti para penguasa yang berhukum dengan selain hukum Islam di berbagai negara berpenduduk muslim, penguasa seperti ini dihukumi kafir, sebagaimana firman Alloh SWT:

وَمَنْ لَمْ یَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka semua itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah:44)

Dalam Risalah Dakwatut Tauhid saya terangkan bahwa ayat ini adalah nash yang bersifat umum, kekufuran dalam ayat ini adalah kufur akbar (kufur besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, penerj.). Di sana juga saya terangkan juga bahwa jika terjadi perdebatan pendapat antara para sahabat dalam menafsirkan ayat, kita harus memilih pendapat yang dikuatkan oleh dalil Al-Qur’an dan Sunnah seperti ditetapkan dalam ilmu Ushul Fiqih.

Sebenarnya, para penguasa itu tidak hanya berhukum kepada selain yang diturunkan Alloh SWT, mereka juga membuat hukum untuk manusia sekehendak hati mereka, dengan demikian mereka telah mengangkat diri mereka sebagai Robb dan tuhan bagi manusia selain Alloh SWT, sebagaimana firman Alloh SWT:
أَمْ لَهُمْ شُرَآَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنْ الدِّینِ مَا لَمْ یَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh…” (QS. Asy-Syuro:21)

B. Penguasa yang melakukan kemurtadan seperti ini, apabila dia tidak melawan maka wajib diganti segera dan dihadapkan kepada Qodhi (hakim) untuk diminta taubat apabila ia mau, apabila tidak mau maka ia dibunuh, dan bila ia sudah bertaubat ia tidak boleh memegang jabatan lagi sebagaimana dicontohkan Abu Bakar dan ‘Umar — Radhiyallohu ‘anhuma —

Rosululloh SAW bersabda:
فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدین المهدیين من بعدي عضوا عليها بالنواجد
“Maka hendaklah kalian memegang sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk sepeninggalku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham…” (HR. Tirmidzi dari ‘Irhadh, ia menshohihkannya).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata:
“ ‘Umar bin Khothob, bahkan Abu Bakar, tidak pernah sama sekali mengangkat orang munafik untuk mengatur kaum muslimin, tidak juga mengangkat kerabat dekatnya, mereka berdua tidak pernah takut celaan orangorang yang mencela karena Alloh SWT.

Ketika Abu Bakar dan ‘Umar khawatir dari mereka ada kemunafikan maka mereka tidak diangkat sebagai pemimpin bagi kaum muslimin. (Majmu’ Fatawa : 25/65)

C. Apabila penguasa murtad tersebut memiliki pasukan perang yang melindunginya, maka mereka harus diperangi, dan setiap orang yang berperang bersamanya maka ia telah kafir, berdasarkan firman Alloh SWT:

وَمَنْ یَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
“Barangsiapa berwali kepada mereka diantara kalian, maka ia termasuk golongan mereka…” (Qs. Al Maidah 51)

Kata مَنْ (Barang siapa… ) dalam ayat ini adalah isim syarat (kata benda syarat) yang bermakna umum mencakup siapa saja yang berwali dan menolong orang kafir dengan perkataan atau perbuatan.

Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan yang lain berkata mengenai perkara-perkara yang membatalkan Islam: “Membantu dan menolong orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin” dalilnya adalah firman Alloh (Qs. Al Maidah 51).

Oleh karena itu siapa saja yang menolong orang kafir dalam kekafirannya, baik dengan perkataan dan perbuatan, maka ia kafir seperti dia.

Inilah hukum dhahir (yang dipakai di dunia) dalam status mereka sebagai orang-orang yang menentang orang-orang beriman dan mujahidin, tapi tidak menutup kemungkinan bathinnya berstatus muslim karena adanya mani’ (penghalang) ia dikafirkan, atau karena ada syubhat yang tidak ia fahami atau penghalang lainnya; namun demikian semua penghalang ini tidak menghalangi kita untuk menghukumi dia sebagai orang kafir karena ada indikasi yang nampak jelas pada dirinya (secara lahiriyah, ketika di dunia).

Inilah sunnah yang berlaku terhadap orang-orang murtad yang memiliki kekuatan untuk melawan.

D. Adapun dalil yang menunjukkan wajibnya memerangi penguasa apabila ia murtad adalah hadits ‘Ubadah bin Shomit ra. ia berkata:

دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبایعناه، فكان فيما أخذ علينا أن بایعنا على السمع
والطاعة في مَنْشَطِنا ومَكْرَهِنا وعُسْرِنا ویُسْرِنا وأَثَرَةٍ علينا، وأن لا ننازع الأمر أهله،
قال: إلا أن تروا آفرا بواحا عندآم من الله فيه برهان
“Rosululloh SAW menyeru kami maka kami berbai’at kepada beliau, diantara yang beliau minta kepada kami dalam bai’at itu adalah kesanggupan untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan ringan atau berat, dalam keadaan sulit atau mudah dan ketika kami diperlakukan tidak adil dan agar kami tidak menggoyang kepemimpinan seseorang, beliau bersabda: “…kecuali apabila kalian melihat kekufuran yang nyata (kufur bawaah) dengan diiringi bukti yang jelas dari Alloh.” (Muttafaq ‘Alaih dengan redaksi hadits milik Muslim.)

E. Ketika kaum muslimin tidak mampu melawan penguasa seperti ini, mereka harus melakukan latihan dalam rangka I’dad (persiapan).

Ibnu Taimiyah berkata: “Persiapan untuk berjihad harus dilakukan dengan menyiapkan kekuatan dan kuda-kuda yang tertambat, ini ketika kewajiban jihad gugur (ditunda) lantaran belum mampu (lemah), sebab sebuah kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan memenuhi suatu perkara, maka perkara itu wajib dilakukan.” (Majmu’ Fatawa (28/259).)

Alloh SWT berfirman:
وَلا یَحْسَبَنَّ الَّذِینَ آَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لا یُعْجِزُونَ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
“Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Alloh). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Alloh). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal:59-61)

Rosululloh SAW bersabda:
ألا إن القوة الرمي

Ketahuilah, kekuatan itu adalah melontar.”
Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim dari ‘Uqbah bin Amir)

Dari semua penjelasan tadi, kini Anda tahu bahwa kewajiban kaum muslimin untuk melawan thoghut-thoghut itu ditetapkan berdasarkan dalil syar’i dimana seorang muslim tidak boleh menentangnya, nash syar’i tersebut adalah perkataan ‘Ubadah:
وألا ننازع الأمر أهله
“…hendaknya kami tidak mengambil kepemimpinan dari seseorang.” (Kemudian Rosululloh) bersabda:
إلا أن تروا آفرا بواحا عندآم من الله فيه برهان
“…kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata diiringi bukti yang jelas dari Alloh…”

Dalam ijma’ ulama juga telah ditetapkan wajibnya melawan para penguasa
murtad sebagaimana saya sebutkan tadi.

Oleh karena itu, tidak dibenarkan melakukan ijtihad dalam menentukan cara menghadapi thoghut jika di sana sudah ada nash syar’i dan ijma’ ulama, siapa
yang berijtihad dalam suatu hal padahal sudah ada nash syar’i dan ijma’ dalam perkara ini, berarti ia telah sesat secara nyata.

Contoh berijtihad dalam hal ini adalah mereka yang mencoba menerapkan hukum Islam melalui media parlementer yang mana parlemen sendiri mengandung unsur kesyirikan, atau melalui cara-cara semisal.

Jika diantara mereka yang terjun di parlemen ada yang mengatakan bahwa kondisi pernah membuat kita tidak mampu melawan para penguasa itu, kami
katakan: Ketika kondisi lemah (tidak mampu), yang sewajibnya dilakukan adalah melakukan I’daad (persiapan untuk berperang), bukan dengan menceburkan diri mengikuti sistem parlemen mereka yang berbau syirik itu. Jika kelemahan benar-benar tak sanggup ditanggulangi, maka wajib melakukan hijrah.

Jika hijrahpun tidak mampu, maka statusnya menjadi seperti kaum lemah (mustadh’afin ) yang berdo’a kepada Alloh seperti halnya orang-orang mu’min yang mustadh’afin:

الَّذِینَ یَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْیَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا
مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

“…yang mereka mengatakan: “Robb kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penguasanya dzalim ini dan jadikanlah pemimpin dan penolong dari sisi-Mu.” (QS. An-Nisa’:75)

F. Jihad melawan para penguasa, murtad dan bala tentaranya adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim selain yang memiliki udzur syar’i.

Inilah yang sebenarnya terjadi sekarang, orang-orang murtad menguasai kaum muslimin, mereka adalah musuh kafir yang menguasai negeri muslim, maka memeranginya adalah fardhu ‘ain. Oleh karena itu Qodhi ‘Iyadh berkata: “…kaum muslimin wajib melawan penguasa murtad tersebut…”

Perkataan Ibnu Hajar lebih jelas dalam mengambil kesimpulan umum, seperti beliau katakan: “Ringkasnya, seorang penguasa harus diturunkan karena kekufuran, maka setiap muslim wajib melawan penguasa seperti itu…” (Fathul Bari : XIII/123)

Dalam waktu bersamaan, orang-orang Islam awam pun mendapatkan beban perintah syar’i yang sama selama ia masih mengaku muslim walaupun ia fasik dan banyak dosa, sebab kefasikan tidak bisa menggugurkan perintah syar’i untuk berjihad. (Lihat pada Bab Empat dari Risalah Al-‘Umdah.)

Tujuan lainnya agar isu jihad berubah yang semula hanya kepentingan orang-orang tertentu menjadi kepentingan seluruh orang Islam.

Dari sini nantinya diharapkan kekalahan berbalik kepada thoghut dan antek-anteknya sehingga mereka bisa diturunkan dari kekuasaannya dan terkuaklah
kekufuran serta kejahatan mereka, Alloh SWT berfirman:
وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوآُمْ
“…dan keluarkanlah mereka sebagaimana mereka mengusir kalian…” (QS. Al-Baqoroh:191)

Alloh SWT juga berfirman kepada Nabi-Nya ‘Alaihis Salam — di dalam hadits
qudsi — :
استخرجهم آما استخرجوك
”…dan usirlah mereka sebagaimana mereka dulu mengusir kalian…” (HR.Muslim dari ‘Iyadh bin Himar.)

Seorang muslim diharamkan menyumbangkan harta berbentuk apapun kepada thoghut-thoghut itu, baik berupa bea cukai ataupun pajak atau yang semisal kecuali dalam kondisi mendesak atau terpaksa.
Alloh SWT berfirman:
وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“…dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perkara dosa dan permusuhan…” (QS. Al-Maidah 2)

G. Memerangi penguasa–penguasa murtad lebih didahulukan daripada memerangi orang kafir asli, baik yahudi, kristen atau kaum animis.

Ini berdasakan tiga tinjauan:
Pertama: Jihad melawan penguasa muartad termasuk jihad difa’i (defensive) yang hukumnya fardu ‘ain dan lebih didahulukan daripada jihad offensive.

Kedua: Karena penguasa tersebut murtad.

Ketiga: Posisi mereka lebih dekat dengan kaum muslimin dan bahaya serta
fitnah yang ditimbulkan lebih besar. Alloh berfirman:

یَاأَیُّهَا الَّذِینَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِینَ یَلُونَكُمْ مِنْ الْكُفَّارِ

“Hai orang-orang beriman,“Hai orang-orang beriman, perangi orang orang kafir disekeliling kalian,” (QS. At-Taubah:123)

Syubhat!!!
Ada satu syubhat kaitannya dengan point pertama dari tiga tinjauan diatas. Sebagian orang mengatakan bahwa menganggap penguasa murtad yang menguasai negeri-negeri kaum muslimin itu sebagai orang kafir yang menduduki negeri kaum muslimin tidak bisa dibenarkan, sebab hukum ini berlaku bagi orang kafir berasal dari luar daerah Islam. Adapun para penguasa tersebut, mereka adalah penduduk lokal, jadi tidak bisa disamakan!

Perkataan ini sengaja dilontarkan dalam rangka mematahkan pendapat yang
disandarkan kepada fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
— tentang wajibnya
memerangi orang-orang Tartar yang tak mau berhukum dengan syariat Islam
walaupun mereka mengaku diri Islam (Majmu’ Fatawa : 28/501-551). kata mereka, fatwa beliau ini tidak boleh digunakan saebagai hujjah / dalil dalam perkara ini, sebab orang-orang Tartar adalah kafir yang bukan berasal dari negara Islam.

Menjawab syubhat ini, kami katakan:
Masalah pemerintah murtad ada nash tersendiri, yaitu hadits ‘Ubadah bin
Shomit;

وألا ننازع الأمر أهله، قال: إلا أن تروا آفرا بواحا عندآم من الله فيه برهان
“…dan kami berba’iat untuk tidak akan merampas kepemimpinan dari seseorang, (kemudian Rosululloh bersabda), “…kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata diiringi bukti yang jelas dari Alloh.”

Mengingat Materi ini cukup banyak halamannya, saya sarankan anda download materi Panduan Fiqih Jihad Fi Sabilillah lalu baca kembali panduan ke 15