Alloh SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara”. (Qs. Al-Hujurot:10)

Rosululloh SAW bersabda:
المسلم أخو المسلم
“Orang muslim adalah saudara muslim lainnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Rosululloh SAW juga bersabda:
المؤمنون آرجل واحد إذا اشتكى رأسه تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى
“Orang-orang beriman ibarat satu orang, jika bagian kepala mengaduh, seluruh badan akan menderita tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir)


1. Tidak ada kelebihan antar kaum muslimin kecuali dengan takwa dan amal sholeh, Alloh SWT berfirman:
إِنَّ أَآْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاآُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Alloh di antara kalian adalah yang
paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurot:13)
Rosululloh SAW bersabda:
لا فضل لعربي على عجمي ولا لعجمي على عربي ولا لأبيض على أسود ولا لأسود على
أبيض إلا بالتقوى، الناس من آدم وآدم من تراب

“Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas non arab, orang non arab atas orang arab, orang kulit putih atas kulit hitam, orang kulit hitam atas orang kulit putih kecuali dengan ketakwaan, manusia seluruhnya dari Adam sedangkan Adam berasal dari tanah.” (HR. Ahmad dan dishohihkan Al-Albani dalam Syarah Aqidah Thohawiyah dan Shohih Jamius-Shogir (1780))

2. Mendapatkan pertolongan adalah hak seorang muslim dari saudaranya sesama muslim walaupun negeri mereka berjauhan.

Rosululloh SAW bersabda:
المسلم أخو المسلم لا یظلمه ولا یُسْلِمه، ومن آان في حاجة أخيه آان الله في حاجته، ومن
فرج عن مسلم آربة فرج الله عنه آربة من آربات یوم القيامة، ومن ستر مسلما ستره الله
یوم القيامة
“Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak (boleh) ia dzalimi atau ia serahkan kepada musuh, barangsiapa memenuhi hajat saudaranya Alloh akan penuhi hajatnya, barangsiapa membantu memberikan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi seorang muslim, Alloh akan berikan jalan keluar baginya ketika menghadapi kesulitan pada hari kiamat, dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Alloh akan tutupi aibnya pada hari kiamat” (HR. Bukhori dari Ibnu ‘Umar.)

Dari sini Anda bisa melihat bahwa pertalian (hubungan) yang bersifat syar’i yang mengikat kaum muslimin adalah ikatan karena status agama Islam.
Pertalian ini memiliki tuntutan-tuntutan, seperti tuntutan saling membantu, saling berlemah lembut, saling menolong dan sebagainya.

Karena pertalian syar’i antar kaum muslimin ini melemah, yang berakibat
kepada tercerai berainya persatuan kaum muslimin dan terpecah belahnya
keutuhan mereka, maka orang-orang kafirpun mencoba membuat pertalianpertalian sebagai ganti, diantaranya:

Pertalian karena tanah air (negara), atau yang biasa disebut nasionalisme. Ini mengakibatkan seseorang fanatik dengan negara asalnya tanpa membeda-bedakan agama penduduknya, akibat lainnya ia akan mendahulukan kepentingan negara sebagai pertimbangan nomor satu. Ini jelas batil secara syar’i, tidak selayaknya seorang muslim menjadikan fanatisme dan loyalitasnya hanya didasari kepada sepetak tanah, sebab tidak menutup kemungkinan pada suatu saat nanti ia dituntut untuk berhijrah di jalan Alloh meninggalkan tanah airnya ini, bahkan Alloh SWT mengancam siapa saja yang lebih memprioritaskan loyalitasnya kepada negara daripada perbuatan yang disukai Alloh dan Rosul-Nya dalam firman-Nya (Qs. At Taubah: 24)

Termasuk tali ikatan jahiliyah adalah fanatisme suku; yaitu sikap fanatik kepada ras dan suku tertentu, berperang membela fanatisme tersebut dan mendahulukan ikatan ini di atas ikatan lain.
Inilah yang disebut da’wah jahiliyyah (seruan jahiliyah) yang mana Rosululloh SAW mengatakan tentangnya:
دعوها فإنها خبيثة »
“Tinggalkanlah seruan itu, sesungguhnya itu busuk.” (HR. Bukhori dari Jabir)

Rosululloh SAW menghukumi orang yang mati karena berperang membela
prinsip ini bahwasanya ia mati dalam keadaan mati jahiliyah (HR.Muslim dari Jabir). Ikatan fanatisme suku inilah yang tertera dalam ayat surat At-Taubah tadi di dalam firman Alloh SWT: وَعَشِيرَتُكُمْ “…dan keluarga kalian…”

Alloh SWT memberikan contoh kepada kita dengan para nabi-Nya tatkala
mereka berlepas diri dari kaumnya, Alloh SWT berfirman:
قَالَ یَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

“Alloh berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik.” (QS. Hud:46)

Alloh SWT juga berfirman:
قَدْ آَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِینَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ
مِنْ دُونِ اللَّهِ آَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orangorang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja.” (QS. Al-Mumtahanah:4)
Ayat-ayat di atas menerangkan bahwa tali ikatan syar’i adalah iman kepada
Alloh saja, ikatan pertalian berupa apapun selain iman tidak bernilai sedikitpun. Loyalitas dan permusuhan terkait dengan iman:

3. Termasuk ikatan pertalian jahiliyah adalah ikatan atas dasar kesamaan bahasa atau kepentingan bersama.

Semua pertalian ini tidak benilai sedikitpun apalagi ketika bertabrakan
dengan tuntutan hukum-hukum syar’i. Semua pertalian ini tak lain diproduksi oleh tangan-tangan orang kafir dalam rangka memecah belah kaum muslimin dan menyulut api permusuhan di tubuh mereka,
ini termasuk perkara yang Alloh ingatkan kepada kita dengan firman-Nya Qs. Ali Imron ayat 100-105.

Alloh SWT juga berfirman:
إِنْ تُطِيعُوا الَّذِینَ آَفَرُوا یَرُدُّوآُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِینَ
“…jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran) lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi” (QS. Ali-Imron:149).

Tujuan kami paparkan keterangan-keterangan ini adalah hendaknya seorang muslim mengerti bahwa loyalitas, hak memberikan pertolongan dan pengorbanan, semuanya terikat dengan tali keimanan saja, tidak perlu melihat tali ikatan lain yang berbau jahiliyah. Seorang muslim haram bersikap loyal dan berperang di atas tali ikatan jahiliyah seperti ini.

Seorang muslim juga harus tahu bahwa orang Islam yang berada di ujung timur paling jauh sana adalah saudara bagi muslim yang berada di ujung barat paling jauh meskipun warna kulit, suku dan bahasanya berbeda; menolong dan membantunya dalam membela kebenaran adalah wajib sesuai kemampuan.