Ini berdasarkan firman Alloh SWT:
فَلا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ“

Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas…” QS. Muhammad:35

Maka selagi kaum muslimin memiliki kekuatan dan mereka lebih tinggi daripada musuhnya, tidak ada istilah damai, gencatan senjata dan perjanjian, tetapi yang wajib adalah perang sampai tidak ada lagi fitnah dan agama ini semuanya milik Alloh. Ini mengingat bahwa ayat jihad yang terakhir turun adalah firman Alloh SWT:

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِآِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ آُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا
وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوْا الزَّآَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“…maka bunuhilah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS. At-Taubah:5)

Beginilah yang dilakukan Nabi SAW dan empat khalifah sepeninggal beliau yang mendapat petunjuk (Khulafa’ Ar-Rosyidun ) dalam memerangi kaum musyrikin dan ahli kitab.

Tidak ada yang menghalangi jihad ini selain ketika kondisi lemah, tidak heran kalau Anda lihat orang-orang kafir berusaha sekuat tenaga menghalangi kaum muslimin untuk berperang dengan menggunakan kedok perdamaian, sebagaimana firman Alloh SWT:

وَدَّ الَّذِینَ آَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً

“Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.” (QS. An-Nisa’:102)

Berulang kali saya sebutkan dalam risalah ini bahwa jika kondisi lemah tidak
memungkinkan untuk melakukan jihad maka persiapan harus dilakukan berdasarkan ayat:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ
“Dan persiapkanlah…dst (Al-Anfal:60)
Demikian juga yang dikatakan Ibnu Taimiyah Rahimahulloh (Majmu’ Fatawa 28/259)
Dari keterangan di muka, kini Anda tahu bahwa asal hubungan orang mukmin dengan orang kafir adalah hubungan perang, sedangkan dispensasinya adalah perdamaian dalam bentuk gencatan senjata atau perjanjian, dispensasi ini tidak wajib diambil selain dalam kondisi terpaksa atau kondisi lemah atau yang semisal, ini berdasarkan firman Alloh SWT:
فَلا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ
Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas…”

Adapun ayat yang dijadikan hujjah oleh mereka tadi (yakni surat Al-Anfal:61 penerj.) maka itu tidak bisa dijadikan hujjah. Sebab ayat itu dibawa kepada makna bolehnya melakukan perdamaian dengan syarat kaum muslimin membutuhkannya, syarat ini diterangkan oleh ayat yang pertama kami sebutkan:
فَلا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas…”
Jadi ayat surat Al-Anfal itu khusus berlaku pada satu kondisi ketika
perdamaian membawa mashlahat bagi kaum muslimin dan mereka
membutuhkannya.

Jadi ayat surat Al-Anfal itu khusus berlaku pada satu kondisi ketika perdamaian membawa mashlahat bagi kaum muslimin dan mereka
membutuhkannya.

Adapun ayat dalam surat Muhammad — semoga sholawat dan salam selalu tercurah kepada beliau — tadi, itu khusus pada kondisi ketika perdamaian tidak mengandung kemashlahatan bagi kaum muslimin, ini terjadi ketika kaum muslimin memiliki kekuatan untuk menaklukkan musuhnya. Dalam kondisi seperti ini, berdasarkan ayat tadi tidak ada perdamaian, sebab itu berarti menyimpang dari hukum asal yang diwajibkan yaitu memenangkan Islam atas agama lain berdasarkan firman Alloh Ta’ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَیَكُونَ الدِّینُ آُلُّهُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu sematamata untuk Alloh. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Alloh Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”
QS. Al-Anfal:39)