Suatu kemenangan dalam Islam pada hakekatnya bukanlah kemenangan dalam arti fisik semata, melainkan yaitu adanya kesuksesan menghadapi ujian dalam rangka mematuhi tugas beribadah. Sebagaimana Firman Allah yang bunyi-Nya :

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111)

“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan memberikan surga untuk mereka ; mereka berperang pada jalan Allah kemudian mereka membunuh dan dibunuh, sebagai janji yang benar dari Allah, di dalam Taurat, Injil dan Qur’an. Siapakah yang menepati janjinya daripada Allah ? Bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Qs. At Taubah: 111)

Maksudnya, bahwa orang mu’min yang berperang pada jalan Allah, mereka telah “menjual” diri dan harta mereka kepada Allah, dibeli dengan “jannah (surga)”, maka hal itu sebagai “kemenangan yang besar”.

Bertambah jelas bahwa yang disebut sebagai pribadi yang sedang dalam kemenangan, pada hakekatnya ialah yang telah sukses tatkala mematuhi tugas ; baik dalam keadaan telah membunuh atau dibunuh. Ini dapat dimaknakan “menang atau kalah secara fisik”. Walaupun dibunuh, namun bila sudah mengabdikan diri kepada Allah, maka itulah yang dinyatakan dalam Kitabbullah sebagai kemenangan yang besar”.

Sebaliknya dari hal diatas itu, terhadap seseorang yang kabarnya berpredikat tokoh Islam, berbangga diri karena kemenangan dalam perebutan kursi. Dengan disanjung oleh para penguasa thagut dan diserahi  baginya kedudukan yang tinggi. Di tempat mana saja dapat berbicara. Ketempat rapat mana pun, fasilitas tersedia. Ya, kapan beristirahat ; gedung mewah dia pun punya. Sedang dirinya merasa aman dari ancaman jahannam, walau sadar berpihak pada penguasa yang menentang berlakunya hukum-hukum Islam. Mata hatinya tertutup (QS. 17 : 46) dengan kemegahan hingga tidak kenal memisahkan mana yang hak dan mana yang bathil. Yang sedemikian itu tidak lain hanyalah kemenangan menurut hawa nafsunya ! Penguasa mana saja asal yang lagi menang, itu pula yang dijadikan majikannya. Tampaknya tidak sadar bila dirinya seolah-olah anjing penyalak ! Dari itulah anda jangan menilai sesuatu kegiatan dari segi duniawi melulu yang bisa-bisa diperosokkan setan !