Ibnu Qudamah berkata: “Makna fardhu kifayah adalah jika belum dilaksanakan oleh sejumlah orang yang mencukupi maka semua orang berdosa, dan jika sejumlah orang sudah mencukupi, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Perintah ini pada awalnya mengenai semua orang sebagaimana kewajiban yang fardhu ‘ain, kemudian hukum ini terpecah menjadi dua, satu sisi fardhu kifayahyang gugur dengan dilaksanakan sebagian orang, dan fardhu ‘ain yang tidak gugur dari seseorang walaupun sudah dilaksanakan orang lain.”

Kemudian beliau berkata bahwa jihad itu fardhu kifayah: “Dalil kami adalah
firman Alloh SWT:
لا یَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ
وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِینَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِینَ دَرَجَةً وَآُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Alloh dengan harta mereka dan jiwanya. Alloh melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Alloh menjanjikan pahala yang baik (jannah)…” (Qs. An-Nisa’:95)
Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang hanya duduk saja tidak berjihad tidak berdosa dengan berjihadnya orang lain.

Alloh SWT juga berfirman:
وَمَا آَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا آَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ آُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin pergi semua (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka…” (Qs At-Taubah:122)
Juga dikarenakan Rosululloh SAW mengutus sariyah-sariyah sementara beliau tinggal di Madinah bersama para sahabatnya.” (Al-Mughni was-Syarhul Kabir X/364-365.)

Kemudian Ibnu Qudamah berkata: Jihad menjadi fadhu ‘ain dalam tiga keadaan:

Pertama: Jika dua pasukan bertemu dan dua barisan saling berhadapan, haram bagi orang yang turut serta dalam peperangan tersebut mundur, posisi seperti ini adalah fardhu ‘ain berdasarkan firman Alloh Ta’ala:

یَاأَیُّهَا الَّذِینَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْآُرُوا اللَّهَ آَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ
وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِیحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِینَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Alloh sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Alloh dan RosulNya dan janganlah kamu berbantahbantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Anfal:45-46)

Kedua: Jika orang-orang kafir menduduki salah satu negeri kaum muslimin, maka penduduknya harus (dan fardu ‘ain hukumnya) memerangi dan mengusir mereka.
Ketiga: Jika imam memobilisasi secara umum terhadap suatu kaum, maka fardhu ‘ain bagi mereka untuk berperang bersamanya berdasarkan firman Alloh SWT:
یَاأَیُّهَا الَّذِینَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمْ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Alloh” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu…” (Qs. At-Taubah:38) serta ayat setelahnya.

Nabi SAW bersabda:
إذا استُنْفِرتم فانفروا
“Jika kalian diperintah untuk berperang, maka berperanglah.” (Al-Mughni was-Syarhul Kabir X/365-366)
Saya katakan: Dalil kondisi kedua sama dengan dalil kondisi pertama, yaitu:
إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا
“Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguhlah hatilah kamu…”
… dan firman Alloh SWT:
إِذَا لَقِيتُمْ الَّذِینَ آَفَرُوا زَحْفًا فَلا تُوَلُّوهُمْ الأَدْبَارَ
“…apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)…” … karena kedudukan musuh yang menduduki tanah kaum muslimin sama dengan kondisi ketika dua pasukan bertemu.

Saya katakan:
Telah kami terangkan dalam bab kedua dari risalah ini — Risalah Al-‘Umdah fi I’daadil ‘Uddah, edisi lengkap dari buku ini, penerj. — syarat–syarat wajibnya jihad, di sana ada sembilan syarat dalam fardhu kifayah (yaitu: Islam, baligh, berakal, merdeka, lelaki dan selamat dari marabahaya — seperti cacat dan sebagainya, penerj. —, ada biaya, izin dari kedua orang tua dan izin terhadap orang yang dihutangi).

Adapun ketika fardhu ‘ain, maka syaratnya hanya lima pertama saja (yaitu: Islam, baligh, berakal, merdeka, lelaki)