Ummah bermakna sekumpulan manusia yang terbina atas suatu aturan yang diyakini bersama, dan sepakat memberlakukan hukum tersebut dalam struktur kepemimpinan [=imamah] yang diterimanya. Dari itu pengertian ummah senantiasa terkait dengan imamah.

Contoh, dikatakan Ummat nabi Musa adalah mereka yang bersetia pada ajaran Alloh yang diamanahkan kepada Nabi Musa AS, mengikuti kepemimpinannya, mendukung gerak langkah perjuangannya, seta rela menderita bersamanya demi keyakinan tadi. Mereka bukanlah ummah Fir’aun, walaupun di masa itu Fir’aun eksis dengan kekuasaan dan kelengkapan aparat pemerintahannya. Bahkan mereka tetap terpisah dari ummah Fir’aun, terlepas dari kendali kekuasaan/kepemimpinan [imamah Fir’aun, sekalipun oleh sebab itu mereka harus hidup di bawah ancaman dan terror kekuasaan Fir’aun tadi [S.10:83].

Bahkan kalaupun ada yang menjabat satu posisi dalam struktur Fir’aun tadi, ia tidaklah berwala kepadanya, ia berjuang sebagai mukmin yang menyembunyikan imannya, yang akan tampil dalam moment yang tepat bagi kepentingan perjuangan yang tengah dijalankan Nabi Musa AS [lihat S.40:23-51. Cermati ayat ayat ke 28,30-35,38-44,45]. (lebih…)


C. Muslihin bukanlah mereka yang berkata : ‘’Bergabung dengan Anda Ibarat Menjatuhkan Diri pada Kebinasaan ! ‘’

Mungkin anda pernah mendengar keluhan seperti di bawah ini :

‘’Manfaat apa yang bisa saya ambil dari jama’ah  ini …. Yang jelas Cuma terancam dan penuh was was. So’al kemapanan tarbiyyah, banyak yang lebih baik dari jama’ah anda, belum lagi soal manajemen organisasi, apalagi kalau kita menghitung kekayaan organisasi dan dukungan ummah. Masuk jama’ah anda tak ubahnya dengan ‘’menjerumuskan diri dalam kebinasaan’’ !’’

‘’Mengapa anda tetap berada di jama’ah seperti itu ? Mengapa tidak bergabung saja pada jama’ah jama’ah yang jelas lebih layak dimasuki dari segi kemapanan organisasinya ? Anda terlanjur terikat dengan nostalgia sejarah, hingga buta mata untuk melihat kenyataan ! Anda dengan jama’ah terikat secara emosional, jauh dari rasional, hingga biar sudah jelas jeleknya, dibela juga, secara emosi lagi belanya juga ….’’

Berhadapan dengan pertanyaan seperti ini, terus terang kita [atau setidak tidaknya saya] sering terhenyak. Betapa tidak ? Sebab yang bicara berpijak pada fakta, sedang [kita akui] di alam kenyataan memang kita belum bisa berbuat banyak ..

Yah, kalau rakyat musuh mencemooh berbagai kekurangan tadi, wajar, sebab yang dibicarakan adalah yang dilihatnya. Hanya yang beda adalah situasi hati ketika membicarakannya.. Ada perbedaan mental ketika membicarakan hal hal yang nyata tadi. (lebih…)


Artikel ini ditujukan:

  1. Secara khusus untuk warga NII yang sudah memperbaharui ikrarnya melalui MKT 6 Tahun 1950 kepada Pemerintahan NII dalam masa perang yang sah MENURUT KONSTITUSI NII dibawah kepemimpinan IMAM NII yang sekarang yakni Abu MYT agar selalu istiqomah dan sabar dalam melaksanakan dan melanjutkan program perjuangan NII/ Marhalah Jihad NII yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah NII.
  2. Secara umum untuk Mujahidin di Indonesia di tiap-tiap shof, untuk warga NII yang belum tahu / belum jelas Imamnya, untuk warga NII yang sedang “galau” agar dengan SEGERA berfikir kritis dan memperbaharui ikrar bai’at nya sesuai MKT 6 Tahun 1950 kepada pemerintahan NII yang sah menurut konstitusi NII (Qonun Asasi, PDB dan strafrecht).

Kita kutip kembal pernyataan berkenaan dengan ini :

‘’Manfa’at apa yang bisa saya ambil dari jama’ah ini …. Yang jelas Cuma terncam dan penuh was was. So’al kemapanan tarbiyyah, banyak yang lebih baik dari jama’ah anda, belum lagi soal manajemen organisasi, apalagi kalau kita menggitung kekayaan organisasi dan dukungan ummah. Masuk jama’ah anda tak ubahnya dengan ‘’menjerumuskan diri dalam kebinasaan’’! Padahal itu dilarang quran [2:195]’’

Pertanyaan model begini. Pertama, berawal dari kesalah fahaman dalam memandang level badan perjuangan kita. Kedua modal mental mereka yang selalu ingin sempurna sejak awal, ingin terima jadi, tidak suka membenahi. Ketiga pandangan mereka Cuma tertuju pada yang Nampak, tidak tertarik untuk menela’ah lebih dalam nilai nilai perjuangan yang Qurani.

Karena itu kepada seluruh ikhwan, marilah kita camkan hal hal berikut ini :

  1. Fahami cakupan perjuangan kita, dan bersikaplah ajeg [istiqomah] dalam wawasan ini !
  2. Jelaskan pada mereka bahwa yang pertama harus dicari bukan apa yang memuaskan diri dulu, tapi apa yang menyelamatkan diri di hadapan Ilahi kelak !
  3. Tampillah dengan semangat ‘’Islah’’ [memperbaiki] bukan datang dengan mental siap menikmati !
  4. Fahami makna sesungguhya dari usaha ‘’Membangun Ummat’’ (lebih…)

Kata sebagian orang :

‘’Kalau Negara pasti isinya bangsa, dan ini ashobiyyah, musyrik, bukan lagi ummah Muhammad, laisa mina man da’aa ila ashobiyyah. buat apa susah susah dikejar kejar penguasa, kalau yang diperjuangkan Cuma ashobiyyah yang membawa kemusyrikan …..’’

Perlu diketahui, bahwa ashobiyyah itu ada definisinya dari nabi sendiri, tidak bisa dikarang karang sendiri lalu dituduhkan pada orang lain.

Ketika seorang bertanya pada Rosululloh SAW, tentang seseorang yang mencintai kaumnya, apakah itu ashobiyyah. Dijawab oleh Rosululloh SAW ‘’Tidak, Ashobiyyah itu adalah apabila kamu menolong kaummu dalam kedzaliman’’ [lihat buku Islam dan kebangsaan A.Hassan]

Dengan demikian bila anda sebagai bangsa Indonesia, ingin agar hukum yang berlaku itu yang selaras dengan citra dan kepribadian bangsa, tanpa mengindahkan hukum hukum Alloh, maka itulah ashobiyyah, tapi bila anda sebagai bangsa Indonesia, menyatakan ingin agar hukum yang berlaku mengatur bangsa ini adalah aturan dari yang menciptakan bangsa tersebut [Alloh Azza wa Jalla], sama sekali itu bukan lah ashobiyyah, tapi Tasyakkur Bi Ni’mat ! Sebab Alloh pun mengakui eksistensi bangsa [S.49:13], Cuma tidak mengakui kedaulatannya dalam membuat hukum. Karena urusan hukum dan pemerintahan, hanyalah hak Alloh semata [S.7:54]. (lebih…)


Kalau penataan jama’ah dihitung fase satu, maka menegakkan daulah adalah fase keduanya, sedang tegaknya kekuasaan yang mendunia [khilafah Islamiyyah/Daulah Islamiyyah ‘Alamiyyah] adalah fase ketiganya. Ini disepakati oleh para ulama haroki [Lihat Hasan Al Bana ‘’Dakwah Kami Kemarin dan Hari ini’’, atau Mustafa Masyhur ‘’Muslim Kaffah Teladan Ummat’’ hal 2, 57, 63, 28].

Cuma anak anak muda sajalah yang bermimpi dari jama’ah langsung ingin tegak khilafah[1], belakangan kita tahu, ternyata idea itu disetir segelintir koloni kelima[2], sengaja dibuat demikian, agar tidak bertabrakan dengan kepentingan politik Negara non wahyu yang mereka berada di dalamnya.

Mereka hanya menebar gagasan padahal mustahil wujud di alam nyata, bagaimana menebar ke khilafah, jika saran daulahnya tidak mereka fikir sama sekali. (lebih…)


Negara atau daulah berbeda dengan pemerintah [imaroh], seperti berbedanya rumah dengan keluarga. Atau bila dibandingkan dengan computer maka Negara ibarat perangkat kerasnya [hardware] sedang pemerintah adalah piranti lunaknya [software]. Keduanya berjalin kelindan namun bukanlah berarti sama.

Negara adalah lembaga hukum tertinggi, organisasi yang memiliki otoritas untuk memberlakukan undang undang, bersifat mengikat, effektif terhadap sosok manusia yang tinggal/terikat kesetiaan dengannya, Adapun pemerintah adalah figure figure manusia yang mengelola Negara tadi, mengisi fungsi fungsi organisasi yang ada di dalamnya.

Negara bersifat rigid [kaku], inhuman [bukan manusia], namun memberi bentuk dan warna masyarakat yang ada di dalamnya. Masyarakat dan seluruh manusia yang ada di dalamnya, mungkin saja memiliki variasi tingkah laku, pola pola sikap tertentu, tetapi kebebasannya memodifikasi sikap, pola hidup dan warna masyarakat tadi senantiasa beredar dan melingkar dalam garis garis Negara tersebut. (lebih…)


Bagi mukminin, kehadirannya di tengah tengah masyarakat, bukan sekedar ikut nimbrung bergaul, bukan sekedar ingin punya tetangga. Tapi sesuai dengan janji sucinya : Inna sholaati wa nusuki wa mahyaya wamamati lillahi Robbil ‘Alamin [S.6:162], semata mata ingin menyerahkan segalanya tadi, mulai dari sholat dan ibadah, hingga hidup dan mati adalah murni dipersembahkan dan berada di bawah pengaturan Syari’at Ilahi. Di dalam hidup tentu isinya bukan sekedar sholat dan ibadah termasuk berkeluarga, bermasyarakat, berhukum dan bernegara hingga berhubungan internasional, nah kesemuanya itu dalam cita cita luhur seorang mukmin ingin agar ‘’lillahi Robi ‘Alamin’’. Lillah, ma’alloh, billah, Ilalloh [karena Alloh semata, disiplin dan optimis sebab diri kita bekerja sendiri tapi bersama dan terus diawasi ilahi, dengan aturan ilahi, menuju Alloh yang Maha Abadi]. Hanya ini saja keinginan mukminin.

Yang lain boleh berubah, alat bisa diganti, cara bisa dimodernisasi, tapi hukum, tujuan hidup dan ketha’atan tidaklah akan berubah Lillahi Robbil ‘Alamin…. (lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.