Kalau penataan jama’ah dihitung fase satu, maka menegakkan daulah adalah fase keduanya, sedang tegaknya kekuasaan yang mendunia [khilafah Islamiyyah/Daulah Islamiyyah ‘Alamiyyah] adalah fase ketiganya. Ini disepakati oleh para ulama haroki [Lihat Hasan Al Bana ‘’Dakwah Kami Kemarin dan Hari ini’’, atau Mustafa Masyhur ‘’Muslim Kaffah Teladan Ummat’’ hal 2, 57, 63, 28].

Cuma anak anak muda sajalah yang bermimpi dari jama’ah langsung ingin tegak khilafah[1], belakangan kita tahu, ternyata idea itu disetir segelintir koloni kelima[2], sengaja dibuat demikian, agar tidak bertabrakan dengan kepentingan politik Negara non wahyu yang mereka berada di dalamnya.

Mereka hanya menebar gagasan padahal mustahil wujud di alam nyata, bagaimana menebar ke khilafah, jika saran daulahnya tidak mereka fikir sama sekali. (lebih…)


Negara atau daulah berbeda dengan pemerintah [imaroh], seperti berbedanya rumah dengan keluarga. Atau bila dibandingkan dengan computer maka Negara ibarat perangkat kerasnya [hardware] sedang pemerintah adalah piranti lunaknya [software]. Keduanya berjalin kelindan namun bukanlah berarti sama.

Negara adalah lembaga hukum tertinggi, organisasi yang memiliki otoritas untuk memberlakukan undang undang, bersifat mengikat, effektif terhadap sosok manusia yang tinggal/terikat kesetiaan dengannya, Adapun pemerintah adalah figure figure manusia yang mengelola Negara tadi, mengisi fungsi fungsi organisasi yang ada di dalamnya.

Negara bersifat rigid [kaku], inhuman [bukan manusia], namun memberi bentuk dan warna masyarakat yang ada di dalamnya. Masyarakat dan seluruh manusia yang ada di dalamnya, mungkin saja memiliki variasi tingkah laku, pola pola sikap tertentu, tetapi kebebasannya memodifikasi sikap, pola hidup dan warna masyarakat tadi senantiasa beredar dan melingkar dalam garis garis Negara tersebut. (lebih…)


Bagi mukminin, kehadirannya di tengah tengah masyarakat, bukan sekedar ikut nimbrung bergaul, bukan sekedar ingin punya tetangga. Tapi sesuai dengan janji sucinya : Inna sholaati wa nusuki wa mahyaya wamamati lillahi Robbil ‘Alamin [S.6:162], semata mata ingin menyerahkan segalanya tadi, mulai dari sholat dan ibadah, hingga hidup dan mati adalah murni dipersembahkan dan berada di bawah pengaturan Syari’at Ilahi. Di dalam hidup tentu isinya bukan sekedar sholat dan ibadah termasuk berkeluarga, bermasyarakat, berhukum dan bernegara hingga berhubungan internasional, nah kesemuanya itu dalam cita cita luhur seorang mukmin ingin agar ‘’lillahi Robi ‘Alamin’’. Lillah, ma’alloh, billah, Ilalloh [karena Alloh semata, disiplin dan optimis sebab diri kita bekerja sendiri tapi bersama dan terus diawasi ilahi, dengan aturan ilahi, menuju Alloh yang Maha Abadi]. Hanya ini saja keinginan mukminin.

Yang lain boleh berubah, alat bisa diganti, cara bisa dimodernisasi, tapi hukum, tujuan hidup dan ketha’atan tidaklah akan berubah Lillahi Robbil ‘Alamin…. (lebih…)


Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat. (lebih…)


Bab Pertama

 

Hal Hidjrah

            ,,Bahwasenja orang-orang jang beriman, dan orang-orang jang hidjrah dan beroesaha soenggoeh-soenggoeh pada djalan Allah; mereka itoelah mengharap-harapkan Rahmat-Oellah; dan Allah adalah Pengampoen dan Pengasih”.

                                                                                                ( Al-Baqarah, ajat 218 )

          Di dalam Bagian Pertama Bab Kelima kita oeraikan dengan agak pandjang sebagian dari pada Riwajat Agama Islam dan Tarich Perdjalanan Rasoeloellah Çlm. pada choesoesnja, teristimewa sekali jang berkenaan dengan zaman hendak Hidjrah, zaman di dalam Hidjrah, ‘amal-perboeatan di dalam zaman Hidjrah hingga sampai kepada datangnja Falah dan Fatah, ja’ni hingga datangnja Bahagia dan Kemenangan. (lebih…)


Lagi tentang ,,Oelil Amri.”

Fadjar Asia, 24 Mei 1930.

 

Dalam karangan jang kemarin dengan singkat telah kita oeraikan, bagaimana sifatnja pemerintah Islam. Lagi bagi kita anak Indonesia, jang sebaian besar (kl 7 per 8 bahagian dp sekalian pendoedoek tanah air kita ini) memeloek agama Islam, wadjiblah berdaja oepaja dan beroesaha dengan sekeras-kerasnja oentoek mengadakan atau membangoenkan soepaja pemerintahan jang sematjam itoe, agar soepaja kita tjakap mendjadi satoe oemmat jang mempoenjai hoekoem dan mendjalankan hoekoem itoe sendiri, dapat berkoeasa atas tanah toempah darah kita sendiri, pendeknja: agar soepaja kita dapat mendjalankan hoekoem sjara’ Islam hingga sesempoerna-sempoernanja dalam segala oeroesan hal-ichwal kita. (lebih…)


Artikel ini meliputi pembahasan:

  1. Agama dan Ideologi
  2. Agama dan Negara
  3. Ideologi Islam
  4. Implementasi Ketahanan Ideologi Islam
  5. Cita-cita dan Kenyataan (Ideologi dan Realiteit)

A. Agama dan Ideologi

  • Pengertian Agama dan Ideologi

Agama menurut arti umum, ialah peraturan atau hukum kebaktian. Didalam Islam ia dinamakan “Dien”, yang secara lengkap berarti : “Keseluruhan peraturan (hukum) kebaktian (ibadah) yang diwahjukan Allah kepada Rasul-Nja (Muhammad Qlm) untuk keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan ummat manusia, kini dan kelak. Didalamnya terkandung kepercayaan, cita-cita dan ajaran-ajaran, yang bersifat dasar, pokok dan perundang-undangan. (lebih…)


بسم الله الرحمن الرحيم

PENETEPATAN PEMERINTAH ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA (APNII)

TENTANG
AWAL RAMADLAN, ‘IEDUL FITHRI DAN ‘IEDUL ADHA 1434 H
DAN AMALIYAH RAMADLAN LAINNYA

Menimbang :

  1. bahwa sehubungan telah datangnya bulan Ramadlan tahun 1434 H, dimana pelaksanaannya sangat ditentukan oleh waktu sesuai fenomena alam  (ketetapan),  oleh karena itu sebagai wujud pertangganung jawaban negara atas warganya dalam melaksanakan syariat Allah, maka dipandang perlu adanya penetapan waktu pelaksanaan Ramadlan.
  2. Khulashoh Syuro KT.APNII Tarikh 13 Sya’ban 1434 H / 22 Juni 2013 M, tentang penetapan amaliyah Ramadlan 1434 H.

Mengingat :

  1. Al-Qur’an dan Al-Hadits Shahih
  2. Qanun Azasi NII

(lebih…)


A. PERJUANGAN MEMPEROLEH KEDAULATAN

1. Cara Memperoleh Kedaulatan ke 1

  • —Pengakuan Kedaulatan dari Unsur-Unsur  yang ada di daerah tersebut (Futuh Madinah)
  • —Kekuatan senjata yang tak bisa lagi dikalahkan oleh kekuatan lain (Futuh Makkah)

2. Cara Memperoleh Kedaulatan ke 2

  • —Pemberian Kedaulatan dari Pihak lain yang superior (Republik Islam Pakistan, Israel)
  • —Perjanjian untuk saling mengakui kedaulatan atau berbagi kekuasaan (Beberapa negara eks Uni Sovyet) (lebih…)

1. EKSISTENSI NEGARA
Keberadaan Negara  ditentukan oleh Existensi Pemerintahannya & Pemerintah  merupakan Syarat mutlak  keberadaan Negara
2. KETERKAITAN NEGARA DENGAN PEMERINTAH
  • Pemerintah merupakan team pengurus dari sebuah Negara, karena Negara tanpa adanya Pemerintah, maka Negara akan Vacum karena tidak ada yang mengurus, kalau kepengurusan ini lama tidak berjalan, maka lama kelamaan Negara akan hilang eksistensinya dan lama kelamaan akan bubar karena tidak ada lagi yang mengelola , contoh Negara Islam Demak, Negara Islam Banten, dll.
  • Maju mundurnya sebuah Negara tergantung pengelola pemerintahannya, berkwalitas suatu Negara dilihat dari para pengelolanya, bukan besar kecilnya wilayah atau jumlah warganya.

(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.