Bermula dari pemahaman atas syahadah

Kalau kita perhatikan dalam Al Quran, para Nabi yang diutus Allah ke muka bumi ini pada intinya menyerukan dua hal, di mana hal yang kedua merupakan perwujudan dari hal yang pertama; yakni seruan untuk takwa kepada Allah dan taat kepada pembawa risalah.

Sebagai contoh seruan Nabi Nuh as : “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku[1].” Demikian juga halnya dengan Nabi Hud as[2], Nabi Shaleh as[3], Nabi Luth as[4], dan Nabi Syu’aib as[5], kesemuanya menyeru dengan seruan yang sama : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu.’ “ (lihat Q.S. An Nahl (16) : 36)

Dengan demikian, kalimat syahadat, laa ilaha illallah muhammadarrasulullah, adalah kalimat persaksian yang menyatakan loyalitas seseorang (dalam hal ini tentunya kepada Nabi Muhammad saw) sebagai suatu perwujudan takwa kepada Allah. Kalimat syahadat ini memang sederhana, namun efeknya luar biasa. Pernyataan ini dapat menimbulkan kemarahan orang-orang Makkah, terutama golongan elit penguasa; Mengapa demikian? Karena seruan untuk taat kepada Nabi Muhammad itu pada akhirnya juga akan menghancurkan kewibawaan penguasa Makkah sebagai penguasa yang memberlakukan hukum non-wahyu ketika itu. Kondisi yang demikian ini hanyalah sekelumit dari cerita panjang sejarah dunia yang sederhana karena sifatnya yang selalu berulang; bahwa pada dasarnya persengketaan yang terjadi sepanjang sejarah perjalanan umat manusia di dunia ini tiada lain adalah persengketaan kekuasaan[6]. Persengketaan dalam menentukan siapakah Robb[7], yakni pihak yang berhak mencipta dan memerintah[8]. Di sinilah perbedaan orang kafir hanya mengakui Allah sebagai Robb semesta Alam[9] tapi tidak sebagai Robbin Nas (Pencipta, pengatur sekaligus pemerintah manusia), karena itu mereka membuat hukum sendiri untuk mengatur masyarakat[10]. Sedangkan orang mukmin mengakui keduanya. Bahkan mukminin mengimani bahwa langit dan bumi adalah wilayah kerajaanNya[11], Allah adalah raja manusia[12]. Raja yang mempunyai kerajaan. Bukan raja ketoprak yang hanya ‘berkuasa’ di panggung sandiwara tanpa kenyataan. Sayangnya banyak manusia memposisikan Allah ibarat raja ketoprak ini[13]. Orang yang beriman berusaha menegakkan khilafah untuk menegakkan hukum Allah[14], sedang mereka yang kafir juga menegakkan kekuasaan untuk memboykot berlakunya aturan Allah ini[15].

Persengketaan mengenai “siapa pemerintah (robb)”, bermula dipelopori oleh Iblis pada saat menyaksikan pengangkatan Adam as untuk menjadi khalifah (penguasa) di muka bumi. Iblis yang terbuat dari api ini merasa iri, dia merasa lebih mulia dan pantas untuk memimpin. Merasa dirinya dicampakkan oleh Allah, maka Iblis berusaha membujuk Adam untuk melanggar larangan Allah, berharap dengan cara ini Adam juga akan dicampakkan oleh Allah seperti dirinya.

Demikianlah, Iblis dengan kedengkiannya yang memuncak itu memandang lebih baik tidak ada khalifah, daripada ada khalifah tapi yang menjadi khalifah itu bukan dirinya. Itulah sebabnya, Iblis berusaha menjatuhkan “kredibilitas” Adam di hadapan Allah. Namun, rupanya Allah memberikan pengampunan kepada Adam. Maka, sejak saat itulah antara Adam yang menurunkan bangsa manusia dan Iblis dari  bangsa jin[16] ini saling berebut pengaruh.

Iblis yang merasa gagal mendapatkan pengakuan dari Allah itu berupaya dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan pengakuan dari bangsa manusia dan jin, berupaya mempengaruhi massa dan mengumpulkan pengikut untuk “mendemo” keputusan Allah, serta berupaya menghalang-halangi mereka dari “jalan Adam” sebagai jalan pertobatan, jalan tauhid hingga akhir zaman. Pada perkembangan berikutnya, Iblis biasa menggunakan isu “ajaran nenek moyang” sebagai “trade mark” atau slogan untuk meraih massa (pengikut).

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’, mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. ‘(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?’ ” (Q.S. 2:170)

Sedemikian hingga pada saat Allah mengangkat Muhammad untuk menjadi khalifah, maka Iblis yang dalam hal ini diwakili oleh Abu Lahab menentangnya habis-habisan, dan berupaya dengan segala cara untuk menjauhkan penduduk Makkah dari pengaruh Nabi Muhammad saw.

Sepeninggal Nabi Muhammad saw, risalah syahadat tidaklah harus kehilangan bentuknya, mengingat bahwa dalam Al Quran Surat An Nisa (4) :59 Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Qur’an) dan Rasul (Hadits).”  (Q.S. 4:59)

Dengan demikian, ketaatan kepada Ulil Amri juga merupakan satu wujud dari ketaatan kepada Allah dan Rasul. Sehingga setelah Rasulullah wafat, loyalitas kepada ulil amri Islam bagian integral dari upaya memelihara nilai syahadah. Sebab berpihak pada kepemimpinan non-Islam akan membuat keutuhan syahadah mereka dipertanyakan (perhatikan Surat Al Maidah : 51 – 53).

Dengan menyimak ayat Qur’an di atas, maka yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah pemimpin yang tunduk serta mendasarkan hukum dan kekuasaannya kepada Allah dan Rasul, yang rujukan nyatanya adalah Qur’an dan Hadits.

Pemimpin yang menyatakan dirinya tunduk kepada Qur’an dan Hadits, namun dalam praktek politiknya mengakui sesuatu yang lain sebagai hukum tertinggi, dengan sendirinya membatalkan status dirinya sebagai Ulil Amri yang wajib ditaati mukminin.

Di Republik Indonesia misalnya, banyak elit politik yang tidak segan segan mengutip  Qur’an dan Hadits, namun mereka menggunakannya dalam batas batas kerangka hukum tertingginya (sumber dari segala sumber hukum), yang menjadi ideologi negara: Pancasila. Qur’an dan Hadits dalam hal ini hanya menjadi mainan politik syetan.

Dengan demikian, pemimpin yang mengakui Pancasila (yang diklaim oleh pembuatnya sebagai intisari ajaran nenek moyang bangsa Indonesia) sebagai hukum tertinggi dan dasar negara, sekalipun dia seorang “muslim yang taat”, tidak berhak diposisikan sebagai  Ulil Amri di mata mukminin. Mereka adalah orang orang yang tidak berada di alur yang seharusnya, keliru memilih jalan (tersesat), perhatikan S. Annisa (4) : 60[17].

Posisi Ahli Kitab

Bila para juru dakwah hanya membawa seruan untuk takwa kepada Allah, tanpa disertai dengan seruan untuk taat kepada pembawa risalah pada zamannya, maka pada umumnya mereka hanya akan dicurigai atau hanya akan dipandang sebagai sekelompok orang tersisih yang tidak mampu mengikuti perubahan zaman, sehingga terkesan melarikan diri dari kehidupan nyata dan berusaha menentramkan diri dengan aktivitas-aktivitas rohaniah belaka.

Situasi semacam inilah yang terjadi dengan Ahlul kitab di masa Rasulullah saw, dicurigai karena tidak mau menyembah berhala dan malah sesekali mereka memprotes ritus penyembahan penyembahan berhala, namun mereka tidak melakukan gerakan perubahan, sebab protesnya hanyalah protes pribadi, bukan gerakan yang terpimpin, sistematis dan terencana.

Bahwa Ahlul kitab berpegang kepada Laa ilaha illallah dapat kita lihat buktinya pada ayat Qur’an berikut ini: “Katakanlah: ‘Hai, Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah.’ Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).’ ” (Q.S. 3:64)

Quraisy belum memberikan perhatian khusus terhadap dakwah ini, karena fenomena kehanifan sudah sejak lama tersebar di masyarakat Makkah. Seperti tercermin pada diri Zaid bin Amer bin Naufal, Waraqah bin Naufal, dan Umaiyah bin Abi Shalt[18]“.

“…….pengetahuan Quraisy tentang sebagian fenomena aneh ini tidak menimbulkan kemarahan selama orang-orang tersebut mencukupkan diri sendiri dan kalangan sendiri. Setiap orang bebas menyembah Allah sebagaimana yang dikehendakinya, selama agama tersebut hanya berupa aqidah di hati dan ibadah, tidak mencampuri urusan kehidupan[19].”

Kalau kita proyeksikan ke masa sekarang, maka para Ahlul kitab yang enggan menyembah berhala itu bolehlah diibaratkan dengan orang-orang yang ragu atau bahkan anti menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup (way of life) bagi dirinya, bahkan mereka selalu mengatakan bahwa hukum tertinggi bagi umat Islam adalah Qur’an dan Hadits, namun mereka tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Orang-orang seperti ini selama tidak memberikan alternatif pemerintahan yang baru, tentu tidak akan diapa-apakan oleh sang penguasa, paling paling baru diawasi bila kemudian turun ke kancah politik.

Tidak demikian halnya bila seseorang menyatakan dirinya berwala / berpihak kepada Ulil Amri Negara Islam Indonesia, maka masalahnya menjadi lain; penguasa tidak segan-segan mengerahkan tangan militernya untuk “menghancurkan” orang tersebut.

Sayangnya, banyak Ahli kitab yang menolak penyembahan berhala itu enggan beriman kepada Nabi Muhammad saw setelah beliau menyatakan kerasulannya. Sayangnya juga, banyak orang yang menginginkan Qur’an dan Hadits sebagai hukum tertinggi di Indonesia tidak mau berwala pada pemerintahan Islam berjuang (Ulil Amri NII) setelah S.M. Kartosuwirjo memproklamirkan ke-ulil-amri-annya;

Jadi, maunya apa? Inilah satu fenomena yang memilukan dan memalukan, secara teoritis bisa menganalisa kesalahan sistem bathil, namun di lapangan praktis menolak untuk melibatkan diri dalam upaya sistematis membangun sistem alternatif yang haq. Begitulah, cara Rasulullah dianggap kuno; lantas, kalau begitu, mau meniru cara siapa? Padahal dalam UUD NII telah dinyatakan bahwa “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits sahih” (pasal 2 ayat 2) dan “Kekuasaan yang tertinggi membuat hukum dalam NII ialah Majelis Syuro (parlemen)” (pasal 3 ayat 1, terkecuali pada masa perang, kekuasaan ini beralih pada Imam dan Dewan Imamah[pasal 3 ayat 2]). Sehingga bila terjadi perselisihan pendapat di dalam masyarakat, maka NII dengan statement pasal 2-nya itu telah mengarahkan umat untuk mengembalikannya pada Allah (Qur’an) dan Rasul (Hadits).

Namun demikian, banyak muslimin bahkan “ahli” atas kitab Quran, namun lebih suka menjalankan ibadah dalam naungan Republik Indonesia di atas dasar Pancasila, daripada berjuang mempertahankan berdirinya pemerintahan Islam yang sudah diproklamasikan Asyahid Kartosoewirjo, bahkan mereka tak segan segan menyatakan bahwa RI itu lebih baik daripada NII, persis seperti yang dinyatakan oleh ahli kitab di masa Rosul :

“Apakah kamu tidak memperhatikan sebagian orang yang diberi al kitab, mereka percaya kepada jibti[20] dan thoghut[21], dan mengatakan kepada orang orang kafir (makkah), bahwa mereka lebh benar jalannya daripada orang orang yang beriman[22].”

Sayang sekali sekalipun dengan jelas NII berdasarkan Islam, hukum tertingginya adalah Quran dan Hadits shohieh, kebanyakan dari mereka lebih memilih negara yang hukum tertingginya adalah Pancasila. Perkembangan selanjutnya dari para intelektual muslim di negara Pancasila memberikan argumentasi bahwa Pancasila adalah ibarat piagam Madinah, dirumuskan oleh orang-orang Islam, dan nilai-nilainya diturunkan dari Al Quran, sehingga tidak harus diubah. Kalaulah betul Pancasila itu ibarat piagam Madinah, mengapa sedemikian sulitnya untuk menerapkan hukum Islam (baik hukum pidana ataupun perdata) di bumi Indonesia ini? Permasalahannya di sini adalah bahwa Pancasila menjadi hukum tertinggi di Indonesia, sehingga bila terjadi perselisihan pendapat di dalam masyarakat, orang harus mengembalikannya pada ajaran Pancasila yang tidak jelas wujudnya. Nilai-nilai Pancasila akan terus berkembang mengikuti perkembangan suara terbanyak “nafsu manusia Indonesia”. Sehingga Qur’an dan Hadits hanya akan dipakai bila tidak bertentangan dengan suara terbanyak yang tidak jelas dan beragam rujukannya itu.

Di dalam tubuh NII sendiri boleh jadi juga terjadi silang pendapat mengenai sesuatu hal, mengingat bahwa latar belakang pengetahuan Islam warganya yang beragam, mulai dari masyarakat awam Islam sampai mereka yang dibesarkan oleh ormas-ormas Islam (seperti Persis, NU, Muhammadiyah, Al Washliyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dstnya) atau pergerakan Islam (Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al Murabithun dll). Namun, selama kesemuanya mengakui Qur’an dan Hadits sebagai hukum tertinggi dan meyakini NII sebagai negara kurnia Allah, dan terus mentaati secara bertanggung jawab, mengontrol keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh negara agar tidak keluar dari hukum Islam (check and balance), maka Insya Allah perbedaan perbedaan tadi menjadi wacana yang memperkaya khazanah hingga tiba pada keputusan terbaik sesuai dengan hukum tertinggi negara.

Jadi, di negara Islam, orang boleh ribut dan berbeda pendapat di dalam menafsirkan Qur’an dan Hadits; sedangkan di negara Pancasila, orang ribut dan berbeda pendapat karena menafsirkan Pancasila. Di negara Islam, setiap perbedaan pendapat akan menjadi rahmat dan ada nilainya di hadapan Allah, bila ia berangkat dari niat seseorang untuk kembali pada nilai-nilai yang dikehendaki Allah, nilai-nilai yang mesti digali dan dilahirkan dari sumber hukum dan nilai yang diijinkan Allah, yakni Qur’an dan Sunnah.


[1]               Q.S. Asy Syu’ara (26) : 108.

[2]               Q.S. Asy Syu’ara (26) : 126.

[3]               Q.S. Asy Syu’ara (26) : 144.

[4]               Q.S. Asy Syu’ara (26) : 163.

[5]               Q.S. Asy Syu’ara (26) : 179.

[6]               Sebagian kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain, demikian firman Allah ketika menurunkan Adam dan Isterinya dari jannah, lihat Q.S. Tha-ha (20) : 123

[7]               “Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai (siapa yang harus berdaulat sebagai) Robb mereka….”  Q.S. Al Hajj (22) : 19

[8]               “… Ingat hak Allah mencipta dan memerintah, maha suci Allah, Robb semesta alam.” Q.S. Al A’raf (7) : 54.

[9]               Kalau orang orang kafir ditanya : “siapakah yang menciptakan semesta?” maka jawabannya pasti kekuatan Yang Maha Perkasa, Yang Maha Mengetahui (lihat Q.S Az Zukhruf : 9), yakni Allah subhana wa ta’ala. Pengakuan orang kafir ini banyak ditemukan dalam Al Quran.

[10]             Apakah mereka mempunya serikat selain Allah yang telah mensyari’atkan mereka Dien selain yang diijinkan Allah? Lihat Q.S. Asy Syura (42) : 21 bandingkan dengan Q.S. Ali Imron (3) : 85, Q.S. Al Mukmin (40) : 20, Q.S. Al Maidah (5) : 50

[11]             Q.s. Al Furqan (25) : 1 – 3, langit dan bumi adalah wilayah kerajaan Allah.

[12]             Q.S. An Nas (114) : 2, Allah Malikin Nas Q.S. Tha-ha (20) : 114, Allah Al Malikul Haqq.

[13]             Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya Q.S. Az Zumar (30) : 67, juga S. Al A’raf (7) : 180, S. Al Hasyr (59) : 22 – 23. yang memerintahkan kita untuk memelihara nama baik Allah, dan tinggalkan orang orang yang merendahkan keagungan Allah, yang tidak menghargaiNya dengan sebenar benar pernghormatan, lihat pula, mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.

[14]             . Allah menjanjikan kekuasaan kepada Orang yang beriman, Q.S. An Nur (24) : 55, Perintah Allah untuk menegakkan hukum di antara manusia dengan wahyu, Q.s. An Nisa (4) : 105.

[15]             Orang kafir berusaha mengangkat sesuatu yang lain (al Bathil)  untuk melenyapkan Al Haq,lihat Q.S. Al Mukmin (40) : 5, Q.S. Al Fushilat (41) : 26.

[16]             Iblis itu dari golongan jin, lihat S. Al Kahfi (18) : 50

[17]             “Apakah kalian tidak memperhatikan orang orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepadamu, dan kepada apa yang diturunkan kepada sebelum kamu, tetapi mereka bertahkim kepada thoghut, meskipun Allah telah memrintahkan untuk mengkufuri thoghut itu. Dan syetan menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

[18]              Syaikh Munir Al Ghadban, “Manhaj Haraki Jilid I” terjemahan, Rabbani Press, Jakarta, 1992, hal. 10.

[19]             Ibid hal 12, cetak tebal dari penulis.

[20]             Ajaran, keyakinan, ideologi yang bathil.

[21]             Kepemimpinan yang memimpin dengan keyakinan dan ajaran yang tidak berdasarkan syari’at Islam.

[22]             Dalam  riwayat Ahmad dan Ibnu Abi Hatim: dikemukakan ketika Ka’ab bin Al Asyraf (seorang yahudi) datang ke Makkah, berkatalah orang orang Quraisy : “tidakkah kau lihat orang yang berpura pura sabar dan terputus dari kaumnya, yang dirinya menganggap lebih baik daripada kami, padahal kami menerima orang yang naik haji, menjadi khadam (pelayan) ka’bah dan pemberi minum.” Berkatalah Ka’ab Al Asyraf: “kamu lebih baik daripada dia (muhammad)” . Maka turunlah surat Al Kautsar (108) : 3 dan Surat an Nisa (4) : 51 di atas. Dari Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, dikemukakan bahwa motor penggerak kesatuan Quraisy – Ghathafan – Bani Quraidhah dalam perang ahzab, yakni  Hay bin Akhthab, Salam bin Abil Haqiq, Abu Rafi’, Ar Rabi bin Abil Haqiq, Abu Imarah, dan Haudah bin Qais dari kaum Yaudi Bani Nadhir. Ketika bertemu dengan kaum Quraisy mereka berkata : “Inilah pendeta pendeta yahudi dan ahli ilmu dari kitab-kitab yang dahulu, cobalah kalian bertanya pada mereka, apakah Dien Quraisy yang lebih baik ataukah Dien (Muhammad)?” Mereka menjawab : “Dien kalian lebih baik daripada Dien Muhammad, dan kalian lebih mendapat petunjuk daripada Muhammad dan pengikutnya.” Turunlah S.4 : 51 – 54 sebagai peringatan, teguran, makian dan kutukan Allah kepada mereka. Lihat K.H.Q Shaleh “Asbabun Nuzul” CV. Diponegoro, Bandung 1975, hal 130 – 131.